Sabtu, 20 November 2010

berita terlengkap mengenai sumiati, sumiati tki indonesia, sumiati, sumiati,gambar sumiati,,sumiati, sumiati,sumiati, sumiati,,sumiati, sumiati,

 sikap tanggap Pemerintah Indonesia melalui KBRI dan KJRI di Arab Saudi,
berusaha semaksimal mungkin untuk membantu pemulihan fisik dan psikis

































Sumiati, TKW asal NTB yang disiksa majikannya.

Tidak hanya memberikan bantuan medis dan pendampingan proses hukum, KBRI dan KJRI juga berusaha menuruti semua keinginan Sumiati yang kini masih terbaring di RS Kings Fahd Madinah. "Dia (Sumiati) minta tahu, sayur lodeh, bakso, kami kasih. Kami sendiri yang buat. Di sini kan saat Iduladha pada libur," ujar Konjen RI di Jeddah, Arab Saudi, Zakaria Anshar, saat dihubungi, Sabtu (20/11/2010).

Tidak hanya itu, pihak KJRI juga menempatkan satu orangnya untuk menjaga Sumiati selama 24 jam penuh di rumah sakit. Sumiati terlihat nyaman dengan banyaknya perawat rumah sakit yang justru berasal dari Indonesia. "Itu dilakukan dalam rangka pemulihan, biar dia merasa aman, tenang. Sehingga tidak ada perasaan yang aneh-aneh," ujarnya.

Sumiati tampak gembira setelah rombongan Kementerian Luar Negeri datang bersama pamannya, Julkarnain.

Selain perawatan secara medis, upaya pemerintah dengan menempatkan seorang staf KJRI, kedatangan keluarga dan perwakilan pemerintah, telah membantu pemulihan kesehatan Sumiati. "Alhamdulillah, sekarang makin baik. Banyak kemajuannya. Dia sudah bisa makan sendiri. Bisa bicara banyak," terangnya. Hal yang tidak kalah penting, lanjut Zakaria, pihak KBRI dan KJRI tetap memantau proses hukum terhadap majikan Sumiati, orang yang diduga melakukan penyiksaan tersebut.

Kepada keluarganya yang ada di Dompu, Bima, NTB, Sumiati berpesan agar banyak berdoa demi kesembuhannya. "Sumiati minta doa keluarganya. Dia sedang dirawat. Dia senang, banyak orang Indonesia di sekitarnya, termasuk pamannya," imbuhnya.

Sumiati (23), TKW asal Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), terpaksa harus dirawat intensif di Rumah Sakit Kings Fahd Madinah, lantaran mengalami luka serius hampir di sekujur tubuhnya, akibat disiksa majikannya. Sumiati yang baru bekerja empat bulan, hampir setiap hari disiksa oleh istri dan anak majikannya.

Akibat penyiksaan itu, hampir seluruh bagian tubuh, wajah, dan kedua kakinya mengalami luka-luka. Media massa di Arab Saudi memberitakan bahwa Sumiati mengalami luka bakar di beberapa titik, kedua kaki nyaris lumpuh, kulit tubuh dan kepala terkelupas, jari tengah tangan retak, alis mata rusak. Paling mengenaskan adalah bagian atas bibir putus.

Kini, majikan Sumiati telah ditetapkan menjadi tersangka dan tengah diinterogasi kepolisian setempat.

Kemlu memberangkatkan keluarga ke madinah

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumiati binti Salan Mustafa (23) dianiaya secara sadis oleh majikannya di Madinah, Arab Saudi. Pemerintah akan segera mendatangkan keluarga Sumiati ke Madinah untuk memberi dukungan.

"Kementerian akan memfasilitasi wakil keluarga, didampingi pejabat Kemlu ke Madinah untuk memberikan dukungan terhadap Sumiati," kata Jubir Kemlu Michael Tene dalam jumpa pers di kantornya, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Senin (15/11/2010).

Pihak Kemlu, hingga saat ini masih terus mengurus segala surat administrasi keberangkatan keluarga Sumiati. Diharapkan dalam waktu dekat, saudara Sumiati sudah bisa diberangkatkan ke Madinah.

"Semoga besok pagi sudah bisa ke Jakarta," tegas Michael.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa juga sudah berkomunikasi secara langsung dengan pihak keluarga Sumiati. Menlu terus memberikan informasi langkah-langkah apa saja yang sudah dan akan segera diambil oleh pemerintah dalam menangani perkara ini.

Oleh KJRI di Jeddah, kasus ini juga sudah dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Pemerintah akan terus memantau supaya ada tindakan hukum yang setimpal terhadap majikan Sumiati.

"Terutama agar pihak yang bertanggungjawab dibawa ke pengadilan," tandas Michael.

Penyiksaan pada Sumiati terkuak pada Senin 7 November. Kala itu Sumiati dibawa ke rumah sakit swasta di Madinah. Karena luka yang dideritnya sangat luar biasa, RS itu merujuknya ke RS King Fahd.

Sumiati tiba di Madinah pada 18 Juli 2010 dengan gaji 800 riyal. Dia sering disiksa oleh ibu dan anak perempuan majikannya.



Moratorium Pengiriman TKI Tak Selesaikan Masalah



Sebanyak 10 aktivis Partai Rakyat Demokratik dan Lembaga Bantuan Hukum APIK, Sabtu (20/11), melakukan aksi solidaritas terhadap penderitaan Sumiati, 23 tahun, tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Aksi dilakukan dengan berbaris memanjang di tengah jalan depan pintuk masuk Kantor Gubernur Nusa NTB, yang letaknya berseberangan dengan Pendopo Gubernuran.

Mereka menilai penganiayaan terhadap Sumiati adalah bentuk ketidak mampuan pemerintah memberikan perlindungan terhadap warganya negaranya. Padahal, para TKI asal NTB cukup banyak memberikan penghasilan bagi keluarganya hingga mencapai lebih dari Rp 600 miliar per tahun.

Kordinator Wilayah Partai Rakyat Demokratik NTB Ahmad Rifai mengatakan, TKI jangan hanya dijadikan obyek, namun harus diberikan perlindungan. ‘’Moratorium pemberangkatan TKI ke Timur Tengah tidak menyelesaikan masalah,’’ ujarnya.

Adapun Kordinator Penanganan Buruh Migran LBH APIK NTB Ida Made Kartane mengemukakan, perlu dilakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan TKI ke luar negeri. ‘’Sebab, orientasinya hanya prioritas penempatan,’’ ucapnya. Dari 109 pasal yang terdapat dalam undang-undang tersebut, hanya tujuh pasal yang mengatur perlindungan terhadap TKI.

Ida Made Kartane juga meminta Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan Peraturan Daerah yang mengatur tentang penempatan dan perlindungan warganya yang bekerja ke luar negeri.



Kecam Penyiksaan Sumiati, Pemerintah RI Panggil Dubes Arab Saudi


Pemerintah RI telah memanggil Dubes Arab Saudi Abdurrahman Mohammad Amen Al-Khayyath terkait penganiayaan WNI Sumiati binti Salan Mustafa di Madinah. Pemerintah juga mengutuk keras penganiayaan tersebut.

"Langkah diplomatik diambil Kemlu dengan memanggil Dubes Arab Saudi di Jakarta ke Kemlu untuk menyampaikan sikap pemerintah Indonesia," ucap Jubir Kemlu, Michael Tene dalam jumpa pers di kantornya, Jl Pejambon, Jakpus, Senin (15/11/2010).

Dalam pertemuan itu, pemerintah menyampaikan sikap resmi mereka kepada Arab Saudi terkait dianiayanya WNI mereka. RI mengecam keras perilaku yang dialami oleh Sumiati.

Pemerintah akan mendesak Arab Saudi agar majikan Sumiati diproses secara hukum. Pemerintah juga akan memastikan agar Sumiati mendapat perawatan yang maksimal selama dirawat di RS King Fahd.

"KJRI meminta seorang dokter untuk secara khusus memantau kondisi yang bersangkutan," tegas Tene.

Pihak KJRI Jeddah telah melihat secara langsung kondisi TKW asal NTB itu di rumah sakit. Kondisi Sumiati sendiri, lanjut Tene, sangat mengkhawatirkan.

"Kondisi fisik prihatinkan, luka-luka di bibir dan berbagai bagian tubuh," tutupnya.


SBY: Penyiksaan Sumiati Kejadian Luar Biasa



Kabar penyiksaan Sumiati binti Salah Mustapa, TKW yang bibir atasnya hilang karena siksa majikan di Arab Saudi, sudah sampai ke telinga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
SBY memerintahkan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa serius menangani kasus Sumiati. "Itu kejadian luar biasa, penyiksaan yang dialami saudari kita, Sumiati," kata Presiden SBY sebelum Rapat Terbatas bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Kantor Presiden, Selasa, 16 November 2010.
SBY kemudian meminta agar Sumiati mendapat penanganan secara serius. Penanganan itu termasuk dalam hal perawatan medis ataupun advokasi hukum. Khusus untuk upaya hukum terhadap majikan Sumiati, SBY minta agar hukum tidak dikaburkan. "Saya dengar ada upaya pengaburan. Jangan sampai hal ini terjadi. Saya ingin hukum ditegakkan," tegas SBY.
Presiden meminta agar tim diplomasi Kementerian Luar Negeri memberikan bantuan total kepada TKW yang baru tiga bulan berada di Arab Saudi itu. "Segera kirim tim agar yang bersangkutan dapat perawatan medis terbaik," ucap Presiden. SBY juga meminta agar kasus penyiksaan terhadap TKI tidak terjadi lagi.
Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pun diminta menangani setiap permasalahan tenaga kerja di luar negeri secara cepat dan tepat.
Luka Sumiati memang sangat parah. Tubuhnya mengalami luka bakar di beberapa titik. Kedua kakinya nyaris lumpuh, kulit tubuh dan kepalanya terkelupas, jari tengah retak, alis matanya rusak. Dan yang lebih parah, bibir bagian atasnya hilang seperti bekas guntingan.


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Menteri Negara Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar untuk mendampingi Sumiati binti Salan Mustapa (23), tenaga kerja Indonesia yang menjadi korban kekejaman keluarga Khaled Salem M al-Khamimisering di Madinah, Arab Saudi.



"Presiden juga perintahkan Menteri Negara Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak berangkat ke Arab Saudi untuk melaksanakan pendampingan kepada Saudara Sumiati. Di Arab Saudi, biasanya laki-laki dan perempuan dipisahkan. Jadi, Ibu Linda bisa lebih leluasa melakukan pendampingan," kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (16/11/2010).

Presiden juga telah meminta adanya tim khusus yang mendampingi Sumiati, khususnya selama masa persidangan. Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, Indonesia telah mengupayakan upaya diplomasi terkait kasus ini.

Pemerintah Indonesia dan pemerintah Arab Saudi memiliki sikap yang sama atas kasus ini, yaitu mengecam tindakan kejam yang dilakukan keluarga Khaled Salem M al-Khamimisering. "Pemerintah Arab Saudi memberikan jaminan akan adanya langkah hukum untuk majikan yang memperlakukan warga negara kita dengan tidak baik. Pemerintah indonesia dan pemerintah Arab Saudi bekerja sama untuk memastikan majikan keji itu dihukum dengan transparan dan terlihat prosesnya," kata Menlu.




Polisi Saudi Belum Tangkap Penganiaya Sumiati

Kepolisian di Madinah, Arab Saudi, belum menahan majikan yang diduga telah menyiksa pembantunya asal Indonesia. Padahal laporan atas tindak kejahatan itu sudah dilayangkan ke polisi sejak lebih dari seminggu.

Demikian ungkap seorang staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi, seperti yang dikutip oleh laman media Arab News, Kamis 18 November 2010. Didi Wahyudi, kepala gugus tugas layanan dan perlindungan WNI dari KJRI Jeddah mengatakan bahwa polisi setempat belum mengambil tindakan atas penganiaya Sumiati binti Salan Mustapa.

"Kepolisian Madinah sampai sejauh ini belum menahan majikan asal Saudi, meski laporan sudah dilayangan ke kantor polisi Faisaliah pada 10 November lalu," kaya Wahyudi seperti dikutip Arab News.

Sumiati sejak 8 November lalu tengah dirawat di Rumah Sakit King Fahd di Madinah. Perempuan berusia 23 tahun itu harus menjalani tindakan khusus, termasuk operasi atas sejumlah organ tubuh yang sudah rusak karena diduga dianiaya oleh majikannya.

Wahyudi mengungkapkan kepada media Saudi itu bahwa berita penganiayaan yang diderita Sumiati telah mendapat perhatian besar dari media massa di Indonesia. "Presiden Yudhoyono sendiri telah menginstruksikan Kementrian Luar Negeri Indonesia untuk menangani masalah ini secara serius dan mengirim misi diplomatik, termasuk pejabat kesehatan, ke Madinah," kata Wahyudi.

Dia menilai polisi setempat tampaknya tidak mau segera bertindak hingga usai libur Idul Adha. "Saya ingin hukum segera ditegakkan," kata Wahyudi.

Setiap tahun, lebih dari 80.000 pembantu rumah tangga asal Indonesia datang ke Arab Saudi untuk bekerja. Kini, sekitar satu juta warga Indonesia bekerja di Saudi, tiga perempat di antara mereka adalah perempuan.
Kementerian Luar Negeri akan membantu keluarga Sumiati untuk datang ke Arab Saudi agar dapat memberikan dukungan moril terhadap Sumiati, yang telah mendapat perlakukan sadis dari majikannya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Gumelar, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, dan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Setianingsih, akan bertolak ke Arab Saudi untuk menangani masalah itu.


SBY tuntut keadilan bagi Sumiati


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini (16/11) membentuk misi ke Arab Saudi untuk memastikan Sumiati Binti Salam Mustapa mendapat perlakuan yang baik setelah penganiayaan yang dia derita.
Sumiati asal Dompu, Nusa Tenggara Barat diduga disiksa oleh majikan perempuan dan putrinya di rumah mereka di Madinah.
Dia mengalami luka dari kepala hingga kaki, antara lain dibakar dengan seterika dan bibirnya digunting.
"Saya ingin hukum ditegakkan. Saya ingin ada misi, bikin tim untuk berangkat ke Saudi Arabia untuk memastikan bahwa yang bersangkutan mendapatkan perawatan, pengobatan yang terbaik. Yang kedua penegakan hukum. Saya mendengar berita katanya ada upaya-upaya untuk mengaburkan. Jangan sampai terjadi. Kebenaran harus ditegakkan," kata presiden.
Adapun pejabat yang ditugaskan untuk memimpin misi itu adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Gumelar.
"Karena biasanya kalau di negara Arab Saudi perempuan dan laki-laki sangat dibedakan. Kebetulan beliau adalah menteri peranan perempuan dan perlindungan anak, sehingga mungkin lebih leluasa untuk melakukan pendampingan kepada Saudari Sumiati tersebut," kata Menkopolhukam Joko Suyanto usai sidang kabinet terbatas, Selasa.

Belum ada tindak lanjut

Konsul Indonesia untuk Perlindungan WNI di Arab Saudi Didi Wahyudi mengatakan KBRI di Arab Saudi, telah melaporkan kasus penganiayaan serius ini kepada kepolisian di kota Madinah Selasa pekan lalu (9/11) namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
"Begitu dengar kita langsung kirim orang ke Madinah untuk mencek kebenarannya dan memang benar dia disiksa kemudian kita laporkan kepada polisi," kata Didi Wahyudi kepada BBC Indonesia.




Pihaknya meminta keadilan atas kasus penganiayaan berat yang dialami Sumiati.
"Artinya, kalau keadilan yang bersalah ditangkap, ditahan, dituntut dan dijatuhi hukuman," tegasnya.
Akan tetapi, kepolisian Arab Saudi sejauh ini belum menangkap majikan perempuan dan putri majikan meski pengaduan polisi telah diajukan Selasa lalu.
"Begitu hari Selasa kita laporkan, hari Rabu libur dan di sini kalau sudah ditangani oleh seorang , libur ya libur," kata Didi.
Polisi yang menangani kasus Sumiati, tutur Didi, masih libur dalam rangka Idul Adha dan paling cepat hari Sabtu mendatang polisi baru akan menindaklanjuti kasus ini.
Kondisi Sumiati, yang masih dirawat di Rumah Sakit King Fahd, Madinah sudah stabil secara klinis tetapi secara psikoligis belum stabil.
Sumiati tiba di Arab Saudi pada 18 Juli 2010. Dia dijanjikan upah 800 riyal Saudi per bulan sebagai imbalan bekerja bagi suatu keluarga di Madinah.
Kisah penyiksaan Sumiati terungkap hari Senin pekan lalu ketika dia dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di Madinah.
Pihak rumah sakit menyimpulkan luka-luka yang dia diderita terlalu parah dan mereka merujuknya ke Rumah Sakit Raja Fahd.
Menurut seorang petugas RS Raja Fahd tubuh Sumiati mengalami luka bakar di beberapa bagian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar