Senin, 05 April 2010

ringkasan audit 2

________________________________________
MODUL 1
AUDIT SAMPLING
Rangkuman
Audit sampling digunakan sebagai aplikasi prosedur audit dengan cara melakukan pengujian terhadap sebagian bukti (baik itu terhadap saldo akun maupun terhadap kelompok transaksi) untuk membuat kesimpulan mengenai karakteristik seluruh bukti.
Pelaksanaan pengujian, yang terdiri dari 2 (dua) pengujian yaitu (1) pengujian pengendalian (test of control) dan (2) pengujian substantif (substantive test). Pengujian pengendalian adalah prosedur audit yang dilaksanakan untuk menentukan efektivitas desain dan/atau operasi pengendalian intern. Sedangkan pengujian subtantif adalah pengujian yang mengungkapkan kekeliruan atau salah saji moneter dalam pencatatan dan pelaporan transaksi (test of transaction) dan saldo akun (test of balance).
Ketika audit sampling digunakan untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan, perlu diketahui bahwa ketidakpastian (uncertainties) dipacu oleh 2 (dua) faktor yaitu (1) yang berhubungan langsung dengan penggunaan sampel (sampling risk, atau risiko sampel) dan (2) yang tidak berhubungan dengan sampel (nonsampling risk, atau risiko nonsampel).
Dalam melaksanakan pengujian audit, seorang auditor dapat menggunakan sampel nonstatistik atau sampel statistik atau kedua-duanya. Persamaan antara sampel nonstatistik dan sampel statistik adalah:
1. Keduanya membutuhkan keahlian dan pengalaman dalam pertimbangan perencanaan audit sampling, dalam pelaksanaan audit sampling, juga dalam mengevaluasi hasilnya.
2. Keduanya memberikan bahan bukti audit yang cukup/layak (sufficient evidential matter).
3. Keduanya merupakan subjek dari risiko sampling dan risiko nonsampling.
Sampling nonstatistik pada pengujian atas pengendalian (TOC) dilakukan dengan:
1. Pengujian Prosedur Pengendalian Komputer yang Telah Terprogram.
2. Pengujian Prosedur Pengendalian Komputer Secara Umum.
3. Pengujian Prosedur Tindak Lanjut.
4. Pengujian Pengendalian Manajemen.
Rangkuman
Variabel sampling adalah teknik statistik yang digunakan oleh auditor untuk menguji kewajaran suatu jumlah atau saldo dan untuk mengestimasi jumlah rupiah suatu saldo akun atau kuantitas yang lain. Variabel sampling untuk memperkirakan saldo suatu akun digunakan oleh auditor dalam kondisi, yaitu: (1) jika klien tidak menyajikan suatu jumlah yang dapat dianggap benar dan (2) jika suatu saldo akun ditentukan dengan sampling statistik.
Pengujian sampel terhadap pengujian substantif terdiri atas:
1. Pengujian substantif atas transaksi (substantive test of detail of transaction, selanjutnya ditulis TOT).
2. Pengujian substantif atas saldo (substantive test of detail of balance, selanjutnya ditulis TOB).
Pengujian dan pengambilan sampel dalam pengujian subtantif baik dengan cara nonstatistik dan statistik dilakukan melalui 7 (tujuh) tahap, yaitu sebagai berikut:
1. Penentuan tujuan pengambilan sampel.
2. Penentuan populasi dan unit sampling.
3. Penentuan Pengendalian Berbagai Kepentingan dan Bahan Bukti Keefektifan Proses Operasi Perusahaan.
4. Penentuan besarnya sampel.
5. Penentuan metode pemilihan sampel.
6. Pemeriksaan sampel.
7. Evaluasi hasil belajar.
MODUL 2
AUDIT SIKLUS PENDAPATAN

Rangkuman
Tujuan audit siklus pendapatan adalah untuk memperoleh bukti kompeten yang cukup tentang tiap asersi manajemen yang signifikan dalam laporan keuangan. Pada siklus pendapatan risiko pengendalian yang muncul umumnya karena tekanan pada manajemen untuk menampilkan performa pendapatan yang lebih baik dari entitas lain, keinginan melebihsajikan atau merendahsajikan kas, piutang, atau piutang tak tertagih untuk kepentingan likuiditas. Selain itu kesalahan karena tingginya transaksi dalam siklus pendapatan, standar akuntansi dan klasifikasi akun-akun dalam siklus pendapatan yang tidak tepat memungkinkan munculnya risiko pengendalian. Dokumen-dokumen yang sering digunakan dalam memproses transaksi penjualan, khususnya yang kredit antara lain order pelanggan, arder penjualan, dokumen pengiriman, faktur penjualan, daftar harga yang diotorisasi, buku besar pembantu piutang, berkas transaksi penjualan, jurnal penjualan dan laporan penjualan bulanan. Fungsi-fungsi yang terlibat dalam transaksi penjualan kredit adalah bagian penerimaan order pelanggan, persetujuan kredit, pemenuhan order penjualan, pengiriman order penjualan, penagihan pelanggan, dan pencatatan transaksi penjualan.
Rangkuman
Penerimaan kas berasal dari berbagai aktivitas. Misalnya, kas yang diterima dari transaksi pendapatan, pinjaman jangka pendek dan jangka panjang, penerbitan saham, dan penjualan surat berharga, investasi jangka panjang, dan aktiva lainnya. Dokumen dan catatan yang digunakan dalam memproses penerimaan kas terdiri dari nota pembayaran (remittance advice), daftar penerimaan kas yang disiapkan sebelumnya (prelisting of cash receipt), lembar perhitungan kas (cash count sheet), ringkasan kas harian (daily cash summary), slip penyimpanan yang divalidasi (validated deposit slip), berkas transaksi penerimaan kas (cash receipt transaction file), dan jurnal penerimaan kas (cash receipt journal). Pemrosesan penerimaan kas dari penjualan tunai dan kredit melibatkan fungsi-fungsi penerimaan kas, penyimpanan kas di bank, dan pncatatan penerimaan
Faktor-faktor yang mungkin memotivasi manajemen untuk salah saji dalam asersi siklus penerimaan kas antara lain penjualan tunai mungkin tidak dicatat sengaja dilakukan dalam rangka pencurian kas, penerimaan kas melalui surat mungkin hilang atau salah diakui setelah penerimaan, uang dan cek yang diterima untuk disimpan mungkin tidak sesuai dengan lembar perhitungan kas dan prelist, kas mungkin tidak disetor setiap hari sebagai upaya menumpuk kas pada pemegang kas untuk keuntungan pribadi, nota pembayaran mungkin tidak sesuai dengan prelist, beberapa penerimaan mungkin tidak dicatat karena banyaknya transaksi penerimaan kas yang dokumennya mungkin tidak langsung disimpan atau dicatat secara rapi, kekeliruan mungkin dilakukan dalam menjurnal penerimaan, dan penerimaan kas mungkin dimasukkan ke akun pelanggan yang salah.
Tujuan audit penerimaan kas adalah untuk meyakinkan bahwa posisi kas pada tanggal neraca benar-benar ada dan merupakan milik perusahaan (existence and ownership), semua transaksi penerimaan kas telah dicatat dengan lengkap dan merupakan transaksi yang sah (completeness, kas di bank seperti dinyatakan dalam rekonsiliasi telah dijumlahkan dengan benar dan sesuai dengan buku besar (mathematical accuracy), kas di bank seperti dinyatakan dalam rekonsiliasi adalah absah dan benar (validity and valuation), transaksi penerimaan kas dicatat dalam periode yang tepat (cutt-off), dan kas telah diungkapkan dengan benar (disclosure).
Transaksi penyesuaian penjualan meliputi fungsi-fungsi persetujuan diskon, persetujuan retur dan pengurangan penjualan, dan penentuan piutang tak tertagih. Salah saji yang potensial berasal dari kekeliruan dan ketidakteraturan dalam pemrosesan transaksi-transaksi ini. Perhatian utama adalah pada kemungkinan transaksi penyesuaian penjualan fiktif yang dicatat dalam pemrosesan penerimaan kas. Auditor harus memahami semua aspek yang relevan dari komponen struktur pengendalian intern dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko salah saji tersebut.

Rangkuman
Standar akuntansi keuangan menggolongkan piutang menurut sumber terjadinya dalam dua kategori yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain. Piutang dinyatakan sebesar jumlah tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan pada neraca diikuti dengan penyisihan untuk piutang tidak dapat ditagih.
Perancangan pengujian substantive atas piutang usaha ini, pertama-tama auditor harus menentukan tingkat risiko deteksi (detection risk) yang dapat diterima untuk tiap asersi signifikan yang berhubungan. Penentuan risiko pengendalian untuk asersi piutang usaha tergantung pada penentuan risiko pengendalian yang terkait untuk kelas-kelas transaksi (penjualan kredit, penerimaan kas, dan penyesuaian kas) yang mempengaruhi saldo piutang usaha.
Beberapa tujuan pemeriksaan (audit objectives) dari piutang dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. mengetahui apakah terdapat pengendalian intern yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas;
2. memeriksa validitas (validity) dan otentitas (authenticity) dari piutang;
3. memeriksa kolektibilitas (collectibility) piutang dan cukup tidaknya perkiraan allowance for bed debts (penyisihan piutang tak tertagih);
4. mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih;
5. memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum (SAK).
________________________________________
MODUL 3
MENGAUDIT SIKLUS PENGELUARAN

Rangkuman
Siklus pengeluaran terdiri dari 2 transaksi utama, yaitu transaksi pembelian dan transaksi pengeluaran kas. Dalam melakukan pengauditan atas kelas transaksi dan jumlah akun, perlu diperhatikan kategori asersinya yang terdiri dari: existence or occurance (keberadaan atau keterjadian), completeness (kelengkapan), right and obligations (hak dan kewajiban),, valuation or allocation (penilaian atau alokasi) dan presentation and disclosure (penyajian dan pengungkapan).
Dalam melakukan aktivitas kontrol pada transaksi pembelian, harus melakukan pertimbangan penaksiran atas risiko kontrol terhadap fungsi: permintaan barang dan jasa, penyiapan permintaan pembelian, penerimaan barang, penyimpanan barang sebagai persediaan, penyiapan voucher pembayaran dan pencatatan utang. Hal ini dilakukan untuk menentukan adanya salah saji potensial, aktivitas pengendalian yang diperlukan dan pengujian pengendalian yang dapat dilaksanakan.
Sedangkan untuk aktivitas kontrol pada transaksi pengeluaran kas, pertimbangan penaksiran atas risiko kontrol yang harus dilakukan adalah terhadap fungsi : pembayaran utang dan pencatatan pengeluran kas.
Pada penyusunan program audit, baik untuk transaksi pembelian maupun transaksi pengeluaran kas, harus berdasarkan asersi yang dituju, yaitu: keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.

Rangkuman
Pengujian substantif pada siklus pengeluaran dilakukan pada saldo utang, saldo aktiva tetap, dan saldo aktiva tidak berwujud. Dalam melakukan pengujian substantif ini, dimulai dari prosedur audit awal, prosedur analitik, pengujian terhadap transaksi rinci, pengujian terhadap saldo akun rinci dan diakhiri dengan verifikasi penyajian dan pengungkapan.
Utang terbagi atas 6 kelompok, yaitu:
1. Utang usaha yang timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan bahan penolong, suku cadang dan bahan habis pakai pabrik.
2. Uang jaminan masuk bagi pelanggan.
3. Utang yang timbul dari berlalunya waktu (accrued payable).
4. Utang yang timbul kepada pihak ketiga karena perusahaan ditunjuk sebagai pemungut pajak atau iuran yang lain.
5. Accrual yang timbul dari kegiatan usaha perusahaan.
6. Utang lain yang diperkirakan akan dilunasi dalam jangka waktu pendek.
Yang termasuk dalam kelompok aktiva tetap adalah:
1. Tanah, bangunan, peralatan perabotan, dan perlengkapan.
2. Penyewaan tetap.
3. Akumulasi depresiasi.
Aktiva tidak berwujud ini terbagi atas 2 kelompok, yaitu:
1. Aktiva tidak berwujud yang eksistensinya dibatasi oleh hukum, peraturan, perjanjian atau karena sifat aktiva tidak berwujud itu sendiri, misalnya paten, lisensi, goodwill, hak cipta (copyright).
2. Aktiva tidak berwujud yang eksistensinya tidak terbatas, di mana pada saat perolehannya tidak menunjukkan adanya keterbatasan eksistensinya, misalnya merek dan nama dagang, dan proses atau rumus rahasia.
Tujuan dari pengujian substansif atas saldo utang, saldo aktiva tetap, dan saldo aktiva tidak berwujud adalah:
1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi.
2. Membuktikan keberadaan dan keterjadian transaksi.
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo yang disajikan di neraca.
4. Membuktikan kewajiban klien atau kewajaran penilaian aktiva yang dicantumkan di neraca.
5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan saldo di neraca.
________________________________________
MODUL 4
AUDIT SIKLUS PRODUKSI DAN SIKLUS PERSONALIA
Rangkuman
1. Siklus produksi merupakan rangkaian aktivitas bisnis dan operasi pemrosesan data terkait yang terus terjadi yang berkaitan dengan pembuatan produk untuk mengubah bahan mentah menjadi barang jadi yang siap untuk dijual.
2. Siklus produksi mempengaruhi beberapa siklus lainnya, yaitu:
1. Siklus pengeluaran dalam pembelian bahan baku dan biaya overhead lainnya.
2. Siklus personalia dalam biaya tenaga kerja.
3. Siklus pendapatan dalam penjualan barang jadi.
4. Program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus produksi dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu:
1. Program audit untuk pengujian pengendalian transaksi manufaktur.
2. Program audit untuk pengujian pengendalian aktivitas penghitungan fisik persediaan.
3. Transaksi manufaktur merupakan transaksi pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Prosedur yang terkait dengan transaksi manufaktur adalah:
1. Order produksi.
2. Permintaan dan pengeluaran barang gudang.
3. Retur barang gudang.
4. Pencatatan biaya tenaga kerja.
5. Pencatatan pembebanan overhead pabrik serta biaya produk selesai.
6. Pencatatan biaya overhead pabrik sesungguhnya, biaya pemasaran, dan biaya administrasi dan umum.
7. Fungsi yang terkait dalam transaksi manufaktur adalah:
1. Fungsi penjualan.
2. Fungsi otorisasi produksi.
3. Fungsi produksi.
4. Fungsi perencanaan dan pengawasan produksi.
5. Fungsi gudang.
6. Fungsi akuntansi biaya.
7. Fungsi akuntansi umum.
8. Dokumen yang biasa digunakan dalam transaksi manufaktur adalah:
1. Surat Order Produksi.
2. Bukti permintaan dan pengeluaran barang gudang.
3. Kartu jam kerja.
4. Bukti pengembalian barang ke gudang.
5. Bukti Memorial (jurnal voucher).
6. Bukti kas keluar.
7. Laporan produk selesai.
• Penyusunan program audit untuk pengujian pengendalian transaksi manufaktur dilaksanakan melalui beberapa tahap berikut ini:
1. Pemahaman terhadap fungsi yang terkait dalam transaksi manufaktur.
2. Pemahaman terhadap dokumen dan catatan yang terkait pada transaksi manufaktur.
3. Penentuan kemungkinan salah saji potensial pada transaksi manufaktur.
4. Penentuan aktivitas pengendalian untuk mendeteksi dan mencegah salah saji potensial pada transaksi manufaktur.
5. Penentuan prosedur audit untuk mendeteksi efektivitas aktivitas pengendalian.
6. Penyusunan program audit untuk pengujian pengendalian pada transaksi manufaktur.

Rangkuman
Perbedaan jenis usaha akan menimbulkan perbedaan karakteristik persediaan. Pada perusahaan dagang, persediaan utamanya adalah persediaan barang dagangan, sedangkan pada perusahaan manufaktur, persediaan yang digunakan adalah persediaan bahan baku, persediaan dalam proses, persediaan suku cadang, persediaan bahan habis pakai, dan persediaan produk jadi.
Pengujian yang dilakukan oleh auditor berkaitan dengan persediaan adalah:
1. Pengujian pengendalian terhadap aktivitas penghitungan fisik persediaan.
2. Pengujian substantif terhadap saldo persediaan.
Sebelum menyusun program audit untuk pengujian pengendalian terhadap aktivitas penghitungan fisik persediaan, terdapat beberapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu yaitu sistem pengendalian intern yang terkait dengan aktivitas tersebut meliputi:
1. Fungsi yang terkait dengan aktivitas penghitungan fisik persediaan yaitu:
1. Tim penghitungan fisik persediaan.
2. Fungsi akuntansi biaya.
3. Fungsi akuntansi umum.
4. Prosedur yang terkait dengan aktivitas penghitungan fisik persediaan yaitu:
1. Penghitungan fisik.
2. Kompilasi.
3. Penentuan kos persediaan.
4. Adjustment kos persediaan.
5. Dokumen yang terkait dengan aktivitas penghitungan fisik persediaan adalah:
1. Kartu penghitungan fisik.
2. Bukti memorial.
3. Daftar hasil penghitungan fisik.
4. Catatan akuntansi yang digunakan dalam aktivitas penghitungan fisik persediaan adalah:
1. Buku pembantu persediaan.
2. Jurnal umum.
Program audit untuk pengujian pengendalian terhadap aktivitas penghitungan fisik persediaan meliputi:
1. Mempelajari instruksi yang digunakan untuk penghitungan fisik persediaan.
2. Melakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik persediaan.
3. Melakukan hitung uji (test count).
4. Melakukan pengujian kompilasi (compilation test).
5. Melakukan pengujian kos (pricing test).
6. Melakukan adjustment test.
Program audit untuk pengujian substantif terhadap saldo persediaan meliputi:
1. Melakukan prosedur audit awal.
2. Melakukan prosedur analitik.
3. Melakukan pengujian terhadap transaksi rinci.
4. Melakukan pengujian terhadap saldo akun rinci.
5. Melakukan verifikasi penyajian dan pengungkapan.

Rangkuman
Siklus personalia meliputi kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kompensasi kepada pimpinan dan pegawai organisasi/perusahaan.
Fungsi-fungsi yang terlibat dalam siklus personalia adalah fungsi personalia, fungsi keuangan, dan fungsi akuntansi yang terdiri dari:
1. Fungsi penerimaan pegawai.
2. Fungsi pencatat waktu.
3. Fungsi pembuat daftar gaji dan upah.
4. Fungsi pembuat bukti kas keluar.
5. Fungsi pembayar gaji dan upah.
6. Fungsi akuntansi biaya.
7. Fungsi akuntansi umum.
Tujuan audit terhadap siklus personalia dikelompokkan menjadi tujuan audit kelompok transaksi dan tujuan audit saldo akun yang ditentukan berdasarkan atas 5 (lima) asersi laporan keuangan yaitu: keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, hak dan kewajiban, penilaian atau alokasi dan penyajian dan pengungkapan.
Dokumen yang digunakan dalam siklus personalia adalah:
1. Dokumen pendukung perubahan gaji dan upah.
2. Kartu jam hadir.
3. Kartu jam kerja.
4. Daftar gaji dan daftar upah.
5. Rekap daftar gaji dan rekap daftar upah.
6. Surat pernyataan gaji dan upah.
7. Bukti kas keluar.
Catatan yang digunakan dalam siklus personalia adalah:
1. Jurnal umum.
2. Kartu kos produk.
3. Buku pembantu biaya.
4. Kartu penghasilan karyawan.
Program audit untuk pengujian pengendalian terhadap siklus personalia dilakukan dengan mengklasifikasikan prosedur audit menurut asersi yang dituju yang meliputi: keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, penilaian dan alokasi.
Program audit untuk pengujian substantif terhadap berbagai saldo akun yang terkait dengan siklus personalia meliputi:
1. Melakukan prosedur analitik.
2. Melakukan penghitungan kembali utang gaji dan upah.
3. Melakukan verifikasi terhadap kompensasi bagi eksekutif.

MODUL 5
AUDIT SIKLUS INVESTASI

Rangkuman
Pengujian substantif terhadap investasi ditujukan untuk:
1. memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan investasi,
2. membuktikan asersi keberadaan saldo investasi yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan investasi dalam tahun yang diaudit,
3. membuktikan asersi kelengkapan semua unsur investasi dan semua transaksi yang berkaitan dengan investasi, membuktikan asersi kepemilikan klien atas investasi yang dicantumkan dalam laporan keuangan,
4. membuktikan asersi kepemilikan klien atas investasi yang dicantumkan di neraca, membuktikan kewajaran penilaian investasi di neraca, dan
5. membuktikan kesesuaian penyajian investasi di neraca dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.
Untuk mencapai tujuan audit tersebut auditor menempuh berbagai prosedur audit.
1. Pada prosedur audit awal, auditor membuktikan apakah investasi yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatan akuntansi yang diselenggarakan dengan mekanisme akuntansi yang andal. Oleh karena itu, auditor mengusut saldo investasi yang dicantumkan di neraca ke dalam akun investasi yang diselenggarakan di dalam buku besar, membuktikan ketelitian penghitungan saldo akun investasi di dalam buku besar, mengusut saldo awal akun investasi ke kertas kerja tahun yang lalu, membuktikan sumber pendebitan dan pengkreditan akun investasi di dalam buku besar ke dalam registrasi bukti kas keluar, check register, dan membuktikan ketelitian catatan investasi dengan cara melakukan rekonsiliasi akun kontrol investasi di dalam buku besar dengan buku pembantu investasi.
2. Pada prosedur analitik, auditor menghitung berbagai ratio (ratio investasi sementara dengan aktiva, ratio investasi jangka panjang dengan aktiva lancar, rate of returns tiap-tiap golongan investasi) untuk kemudian dibandingkan dengan harapan auditor, misalnya ratio tahun yang lalu, rerata ratio industri, atau ratio yang dianggarkan, Pembandingan ini membantu auditor untuk mengungkapkan: peristiwa atau transaksi yang tidak biasa, perubahan akuntansi, perubahan usaha, fluktuasi acak atau salah saji.
3. Pada pengujian transaksi rinci, auditor memeriksa dokumen yang mendukung transaksi pemerolehan dan penjualan investasi, menghitung kembali pendapatan bunga dan dividen tahun yang diaudit, menghitung kembali laba dan rugi yang timbul dari transaksi penjualan surat berharga, menghitung kembali laba atau rugi yang timbul dari transaksi penjualan investasi, memeriksa dokumen yang mendukung transaksi pembelian surat berharga dalam periode sekitar tanggal neraca, memeriksa dokumen yang mendukung transaksi penjualan surat berharga dalam periode sekitar tanggal neraca, memeriksa dokumen yang mendukung pemerolehan investasi yang dimiliki oleh klien pada tanggal neraca.
4. Pada pengujian rinci, auditor mempelajari notulen rapat pemegang saham dan direksi, meminta daftar surat berharga yang ada di tangan klien dan lakukan penghitungan dan inspeksi terhadap sertifikat surat berharga tersebut, mengirimkan konfirmasi tentang surat berharga milik klien yang berada di tangan pihak lain, melakukan rekonsiliasi antara surat berharga yang dihitung dengan hasil konfirmasi dan jumlah yang disajikan di neraca, melakukan inspeksi dan pemeriksaan terhadap polis asuransi surat berharga, meminta informasi mengenai surat berharga yang dijadikan jaminan penarikan utang, membandingkan metode penilaian investasi yang digunakan oleh klien dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia, membandingkan nilai investasi dengan harga pasar surat berharga.
5. Verifikasi penyajian dan pengungkapan investasi di neraca, ditujukan untuk memperoleh informasi apakah klien telah menyajikan investasi di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum dengan pengungkapan memadai. Informasi mengenai hal ini diperoleh auditor dengan cara memeriksa klasifikasi persediaan di neraca dan memeriksa investasi jangka panjang mengenai kemungkinan sebagai alat pengendalian perusahaan lain.

________________________________________
MODUL 6
AUDIT SIKLUS PENDANAAN

Rangkuman
Siklus pendanaan terhubung dengan siklus pendapatan dari penerbitan utang obligasi dan siklus pengeluaran ketika kas dikeluarkan untuk bunga obligasi, dividen, dan penarikan kembali atau pelunasan saham atau utang obligasi, dan pembelian saham masyarakat. Alur-alur yang digunakan dalam mencatat transaksi siklus pendanaan mencakup transaksi utang jangka panjang dan transaksi ekuitas pemegang saham.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat perencanaan audit siklus pendanaan yaitu materialitas, inherent risk, analytical procedure risk, dan control risk.

Rangkuman
Pengujian substantif terhadap utang jangka panjang ditujukan untuk: (1) memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan utang jangka panjang, (2) membuktikan bahwa saldo utang jangka panjang mencerminkan kepentingan kreditur yang ada pada tanggal neraca dan mencerminkan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan utang jangka panjang selama tahun yang diaudit, (3) membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat selama tahun yang diaudit dan kelengkapan saldo utang jangka panjang yang disajikan di neraca, (4) membuktikan bahwa utang jangka panjang yang dicantumkan di neraca merupakan klaim kreditur terhadap aktiva entitas, (5) membuktikan kewajaran penilaian utang jangka panjang yang dicantumkan di neraca, (6) membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan utang jangka panjang yang dicantumkan di neraca.
Rangkuman
Pengujian substantif terhadap modal saham ditujukan untuk: (1) memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan ekuitas pemegang saham, (2) membuktikan bahwa saldo modal saham mencerminkan kepentingan pemegang saham yang ada pada tanggal neraca dan mencerminkan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan ekuitas pemegang saham selama tahun yang diaudit, (3) membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat selama tahun yang diaudit dan kelengkapan saldo ekuitas pemegang saham yang disajikan di neraca, (4) membuktikan bahwa saldo ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di neraca merupakan klaim pemilik terhadap aktiva entitas, (5) membuktikan kewajaran penilaian ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di neraca, (6) membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan ekuitas pemegang saham yang dicantumkan di neraca.
Daftar Pustaka
• Ikatan Akuntansi Indonesia (2002), Standar Akuntansi Keuangan, per 1 April 2002, Jakarta: Salemba Empat.
• Mulyadi, Drs, M.Sc. (2002), Auditing, Buku 2, Edisi 6, Jakarta: Salemba Empat.
• S. Munawir, Drs, Akt, M.M (2005), Auditing Modern, Buku II, Edisi pertama, Yogyakarta, BPFE.

________________________________________
MODUL 7
AUDIT ATAS SALDO AKUN KAS
Rangkuman
Kas yang dicantumkan di neraca terdiri dari kas di tangan dan kas di bank. Mengingat kas ini mudah digelapkan dan diselewengkan maka pengendalian internnya sangat ketat. Dalam audit kas auditor harus menerapkan prosedur analitis secara keseluruhan penentuan tingkat internalitas risiko melekat, risiko pengendalian kas dan risiko deteksi atau risiko audit kas.
Pengujian mendetail transaksi kas setidaknya meliputi pengujian atas cut off kas, penelusuran transfer bank dan pembuatan prof of cash.
Rangkuman
Tujuan khusus audit saldo kas adalah memperoleh bukti yang meyakinkan mengenai adanya atau kebenaran asersi manajemen yang berhubungan dengan saldo kas, yaitu adanya atau terjadinya, kelengkapannya, hak dan kewajibannya, penilaian atas alokasi serta penyajian dan pengungkapannya.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam audit saldo kas adalah:
1. menentukan risiko deteksi;
2. merancang substantif test;
3. melakukan prosedur awal;
4. melakukan prosedur analitis

Rangkuman
Kegiatan dalam pengujian mendetail saldo kas (Test of details of balance) adalah:
1. menghitung kas di tangan;
2. mengonfirmasi simpanan dan pinjaman di bank;
3. mengonfirmasi perjanjian lain dengan bank;
4. menscan, mereview, dan membuat rekonsiliasi bank;
5. mendapatkan dan menggunakan bank out of statement;
6. membandingkan penyajian pernyataan dengan PABU
7. pertimbangan-pertimbangan lain seperti pengujian deteksi lapping dan prosedur audit.
Daftar Pustaka
• Ikatan Akuntansi Indonesia (2002), Standar Akuntansi Keuangan, per 1 April 2002, Jakarta: Salemba Empat.
• Mulyadi, Drs, M.Sc. (2002), Auditing, Buku 2, Edisi 6, Jakarta: Salemba Empat.
• S. Munawir, Drs, Akt, M.M (2005), Auditing Modern, Buku II, Edisi pertama, Yogyakarta, BPFE.

________________________________________
MODUL 8
PENYELESAIAN AUDIT DAN TANGGUNG JAWAB AUDITOR PASCA AUDIT

Rangkuman
Tanggung Jawab Auditor dalam Penyelesaian Audit
Penyelesaian pekerjaan lapangan Mengevaluasi temuan Komunikasi dengan klien
Melaksanakan review atas subsequent event Membuat penilaian akhir tentang materiality dan risk Komunikasi masalah struktur pengendalian internal
Membaca risalah rapat Melaksanakan review teknis atas laporan keuangan Komunikasi tentang pelaksanaan audit
Mendapatkan bukti mengenai LCA Memformulasikan opini dan merancang laporan audit Membuat management letter
Mendapatkan rep letter Melaksanakan review final atas kertas kerja audit
Melaksanakan prosedur analitis

Rangkuman
Pada kegiatan belajar ini telah dijelaskan tanggung jawab pokok seorang auditor dalam menyelesaikan audit suatu laporan keuangan. Langkah yang harus dilakukan meliputi review terhadap peristiwa kemudian, membaca notulen rapat direksi dan dewan komisaris serta komite-komite sampai tanggal penerbitan laporan audit, perolehan bukti atas tuntutan-tuntutan hukum, klaim dan pembebanan, dan peroleh surat representasi dari kliennya. Langkah pengevaluasian atas temuan-temuannya meliputi penentuan tingkat materialitas dan risiko audit tahap akhir, review secara detail dan teknis atas kertas kerja dan laporan keuangan, merumuskan pendapat dan penyusunan konsep laporan audit.
Auditor diminta untuk mengomunikasikan kepada kliennya tentang kondisi-kondisi yang dapat dilaporkan yang berkaitan dengan struktur pengendalian intern dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan audit. Sebagai tambahan, auditor dapat membuat rekomendasi kepada kliennya yang berkaitan dengan efisiensi dan efektivitas operasi kliennya dalam bentuk management letter. Akhirnya auditor harus menyadari tanggung jawabnya setelah audit selesai (tanggung jawab paska audit) yang berkaitan dengan peristiwa kemudian yang terjadi antara tanggal selesainya pekerjaan lapangan (tanggal laporan) dengan tanggal penerbitan laporan auditor, diketemukannya fakta setelah tanggal laporan dan adanya prosedur audit penting yang tidak dilaksanakan selama audit.
Tahap akhir dari pelaksanaan audit adalah menyusun laporan, baik dalam bentuk baku maupun tidak baku sesuai dengan Standar Auditing Berterima Umum.

________________________________________
MODUL 9
JASA AKUNTAN PUBLIK LAIN DAN JENIS PELAPORAN AKUNTANSI LAINNYA
Rangkuman
Dalam melaksanakan penugasan atestasi, seorang akuntan publik harus 1) memperoleh bukti yang mendukung asersi 2) secara objektif menilai berbagai pengukuran yang ada dan mengomunikasikan dengan pihak klien secara individual berkaitan dengan asersi yang ada, 3) melaporkan temuan yang ada.
Standard atestasi harus memperluas tinggi atestasi tidak hanya pada basis laporan keuangan historis, memungkinkan pemberi jasa atestasi untuk membedakan assurance, dan memberikan jasa sesuai kebutuhan pengguna.
Jenis-jenis penugasan atestasi yang dapat dilakukan akuntan publik adalah antara lain:
1. audit;
2. examination;
3. review; dan
4. agreed upon prosedur/due delligent
Rangkuman


Rangkuman
Jasa non astestasi lainnya adalah jasa akuntan publik yang tidak berkaitan dengan penilaian terhadap kliennya terdiri atas:
1. perbantuan penyesuaian pembukuan akun (adjusment);
2. menyusun neraca percobaan;
3. penyusunan laporan pajak;
4. penyusunan sistem akuntansi.
Dalam melaksanakan jasa profesionalnya, akuntan publik dapat melakukan step up (perubahan kepada kenaikan level assurance) ataupun step down perubahan kepada penurunan level assurance) dari penugasan sebelumnya.




mau cari duit dengna on line,pasive in come yo gabung di klik disini atau gambar di atas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar