Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 September 2010

jika indonesia perang dengan malaysia







Saya selalu mikir kenapa pemerintah Indonesia kayaknya adem ayem aja menanggapi provokasi Malaysia, Ternyata setelah Googling ke sana kemari terungkap fakta kalau memang Indonesia ga level buat menghadapi Malaysia…wuuuss sabar Gan, ga level disini maksudnya biar saya jelaskan dengan data temuan saya OK.
data dari cia factbook

Dari data diatas udah ketahuan kan?jika seluruh tentara Indonesia berangkat ke Malaysia sana bisa-bisa yang ada Tentara Malaysia dibantai tentara Indonesia

Nah ini ada yang lebih keren lagi, silahkan simak di GlobalFirePower, situs yang melakukan peringkat kekuatan militer negara-negara dunia, dan liatlah 20 kekuatan militer dunia




ini daftar budget pertahanan



.Trus ada nih Malay yang coment di forum sebelah katanya sebelum tentara Indonesia mau nyebrang sudah ditenggelamin sama angkatan laut Malaysia…n kita liat fakta lagi



Simulasi Perang Indonesia/Malaysia Dengan Malaysia/Singapura, Kekuatan Militer Di Kep. Spratley,dan Scenario Planning

Simulasi Perang Indonesia/ Malaysia Dengan Malaysia/Singapura, Kekuatan Militer Malaysia Di Kep. Spratley,dan Scenario Planning

dump01268539

Harapan kita tentunya perang ini tak akan pernah terjadi, namun, let’s hope for the best, prepare for the worst. Di bawah ini beberapa scene dari simulasi yang saya buat di Jane’s Fleet Command yang sudah saya rombak sehingga bisa mensimulasikan Indonesia & negara-negara di sekitarnya, termasuk Singapura, Malaysia. Dalam gambar-gambar di bawah ini, saya membuat simulasi dimana Indonesia & Malaysia berada di satu pihak (kawan), dan Singapura diposisikan sebagai lawan.

Hasil akhir, tidak disangka kita cukup bisa berbicara. Kapal selam diesel elektrik kita berperan besar melumpuhkan armada lawan. Sebagai bayarannya, banyak kapal permukaan kita yang tumbang dihajar Harpoon yg diluncurkan dari kapal permukaan Singapura maupun dari F-16C/D nya yang berkemampuan anti kapal permukaan. Pesawat-pesawat udara kita juga banyak yg harus jadi korban.

dump00197702

dump01143964

dump00458114

dump01090551

dump01143964

dump01268539

Sumber :

http://www.tandef.net/simulasi-perang-indonesiamalaysia-vs-singapura

Jika Terjadi Perang Indonesia VS Malaysia

Saya selalu mikir kenapa pemerintah Indonesia kayaknya adem ayem aja menanggapi provokasi Malaysia Ternyata setelah Googling ke sana kemari terungkap fakta kalau memang Indonesia ga level buat menghadapi Malaysia…wuuuss sabar Gan, ga level disini maksudnya biar saya jelaskan dengan data temuan saya OK.

Data dari CIA Factbook

dan

Dari data diatas udah ketahuan kan?jika seluruh tentara Indonesia berangkat ke Malaysia sana bisa-bisa yang ada Tentara Malaysia dibantai tentara Indonesia

Nah ini ada yang lebih keren lagi, silahkan simak di GlobalFirePower, situs yang melakukan peringkat kekuatan militer negara-negara dunia, dan liatlah 20 kekuatan militer dunia.

Ehmm si Malay Jablay dimana ya???

Trus dibawah ini daftar budget anggaran pertahanan

Si Malay Jablay kemana lagee ya??

Trus ada nih Malay yang coment di forum sebelah katanya sebelum tentara Indonesia mau nyebrang sudah ditenggelamin sama angkatan laut Malaysia…n kita liat fakta lagi

Dan satu ini berasal dari situs www.nationmaster.com



kekuatan militer negara-negara



perbandingan kekuatan militer indonesia vs malaysia






mencoba mencari link yang mengarahkan pada analisa kekuatan militer antara dua negara yakni Indonesia. akhirnya saya menemukan link berikut dengan mencoba menelaah kedua peta kekuatan militer 2 negara tersebut

cara membaca tabel adalah

TOT Qual (total gaya kualitas) adalah sebagian kecil dari yang mentah (teoritis) kekuatan tempur harus dikalikan untuk menjelaskan kepemimpinan yang tidak sempurna, komponen gaya kualitas, dukungan, pelatihan dan lain-lain “lunak” faktor. Think of it as an efficiency rating, with “100″ being perfect and “55″ being a more common 55 percent efficiency. Menganggapnya sebagai rating efisiensi, dengan “100″ menjadi sempurna dan “55″ menjadi 55 persen lebih umum efisiensi.

TOT POP (population in millions) indicates the nation’s relative military manpower resources. TOT POP (penduduk dalam jutaan) menunjukkan bangsa militer relatif sumber daya tenaga kerja. Population is also a more meaningful indicator of a nation’s size than territory. Penduduknya juga yang lebih bermakna indikator ukuran suatu bangsa dari wilayah. By our count, the world population is 6.6 billion. Kami menghitung, populasi dunia 6.6 miliar.

GDP (Gross Domestic Product, in billions of dollars) is a rough gage of the nation’s economic power. PDB (Produk Domestik Bruto, dalam miliaran dolar) adalah gage kasar dari kekuatan ekonomi bangsa. This does not translate immediately into military power because of the time needed to convert industry from civilian to military production. Hal ini tidak menerjemahkan langsung menjadi kekuatan militer karena waktu yang dibutuhkan untuk industri mengkonversi dari sipil produksi militer. Mobilization of some types of military equipment takes years. Mobilisasi dari beberapa jenis peralatan militer waktu bertahun-tahun. Other types of weapons, especially those using electronics, can be brought to bear in months. Senjata jenis lain, terutama mereka yang menggunakan elektronik, dapat dibawa ke beruang di bulan. By our count, the world GDP is $57.7 trillion (thousand billion). Kami menghitung, PDB dunia adalah $ 57.7 triliun (seribu miliar).

ACT MEN (active military manpower in thousands) is the total uniformed, paid manpower organized into combat and support units. ACT PRIA (tenaga militer aktif dalam ribuan) adalah total berseragam, membayar tenaga kerja disusun dalam pertempuran dan dukungan unit. Because of the widely varying systems of organizing military manpower, this figure is at best a good indicator of the personnel devoted to the military. Karena sistem beragam luas pengorganisasian tenaga kerja militer, angka ini paling-paling indikator yang baik dari yang disediakan untuk personil militer. Industrialized nations hire many civilians to perform support duties, while other nations flesh out skeleton units with ill-prepared reserves, uncertain effect on wartime strength. Negara-negara industri mempekerjakan banyak warga sipil untuk melakukan tugas-tugas dukungan, sementara negara-negara lain menyempurnakan kerangka unit dengan cadangan tidak siap, tidak yakin efek pada kekuatan perang. The use of reserve troops varies considerably. Penggunaan pasukan cadangan bervariasi. By our count, the world total of active troops is 20.6 million. Kami menghitung, dunia total pasukan aktif adalah 20.6 juta.

MIL BUD (Military Budget in millions of dollars) is the current annual armed forces spending of that nation. MIL BUD (Anggaran Militer dalam jutaan dolar) adalah angkatan bersenjata pengeluaran tahunan dari bangsa. All nations use somewhat different accounting systems for defense spending. Semua bangsa menggunakan sistem akuntansi yang agak berbeda untuk belanja pertahanan. Efforts are made to eliminate some of the more gross attempts at hiding arms expenditures. Upaya yang dilakukan untuk menghilangkan beberapa upaya yang lebih kotor lengan menyembunyikan pengeluaran. Some of the figures, particularly for smaller nations, may be off by 10 percent either way. Beberapa tokoh, terutama untuk negara-negara yang lebih kecil, mungkin tidak aktif sebesar 10 persen either way. By our count, the world defense spending is $1.35 trillion (2.34 percent of GDP). Kami menghitung, anggaran pertahanan dunia adalah $ 1.35 triliun (2,34 persen dari PDB).

BUD MAN is the annual cost per man for armed forces in thousands of dollars. BUD MAN adalah biaya tahunan per orang untuk angkatan bersenjata dalam ribuan dolar. This is an excellent indicator of the quantity and, to a lesser extent, the quality of weapons and equipment. Ini adalah indikator yang sangat baik kuantitas dan, pada tingkat yang lebih rendah, kualitas senjata dan peralatan. Some adjustments should be made for different levels of personnel costs, research and development, strategic weapons and waste. Beberapa penyesuaian harus dibuat untuk berbagai tingkat biaya personil, penelitian dan pengembangan, senjata strategis dan pemborosan. The United States, in particular, is prone to all four afflictions. Amerika Serikat, khususnya, rentan terhadap keempat penderitaan. The precise adjustments for these factors are highly debatable. Penyesuaian yang tepat untuk faktor-faktor ini sangat bisa diperdebatkan. One possible adjustment would be to cut the US cost per man by at least one third. Satu kemungkinan penyesuaian akan memotong biaya AS per orang oleh setidaknya sepertiga. Other nations with strategic programs and large R&D establishments (Russia, Britain, France, China, etc.) should be adjusted with deductions of no more than 15 percent. Negara lain dengan program-program strategis dan besar R & D Pendirian (Rusia, Britania Raya, Perancis, Cina, dll) harus disesuaikan dengan pengurangan tidak lebih dari 15 persen. Britain could also take another 5 or 10 percent cut because of its all-volunteer forces higher payroll. Britain bisa juga mengambil lagi 5 atau 10 persen memotong karena semua-pasukan relawan gaji yang lebih tinggi. Most nations are willing to pay for a volunteer force, if they can afford it. Kebanyakan negara-negara yang bersedia membayar untuk sebuah kekuatan sukarelawan, jika mereka mampu membelinya. That’s because volunteers tend to be more effective. Itu karena sukarelawan cenderung lebih efektif. At the other extreme, many nations produce a credible defense force using far less wealth. Pada ekstrem yang lain, banyak negara menghasilkan kekuatan pertahanan yang kredibel menggunakan jauh lebih sedikit kekayaan. Low paid conscripts, good leadership and the sheer need to improvise enables many of these poorer nations to overcome their low budgets. Dibayar rendah wajib militer, kepemimpinan yang baik dan rasa perlu untuk berimprovisasi memungkinkan banyak dari negara-negara miskin untuk mengatasi anggaran yang rendah. However, most nations end up getting what they pay for. Namun, sebagian besar bangsa akhirnya mendapatkan apa yang mereka bayar.

AFV (Armored Fighting Vehicles) These include tanks, armored personnel carriers and most other armored combat and support vehicles. AFV (Armored Fighting Vehicles) ini meliputi tank, pengangkut personel lapis baja dan sebagian besar lainnya tempur lapis baja dan dukungan kendaraan. AFV are the primary components of a ground offensive, and greatly enhance chances of success. AFV merupakan komponen utama dari serangan darat, dan sangat meningkatkan peluang keberhasilan.

AIRCRAFT CMBT are the number of combat aircraft available, including helicopter gunships and armed maritime patrol aircraft. AIRCRAFT CMBT adalah jumlah pesawat tempur yang tersedia, termasuk helikopter tempur dan pesawat patroli maritim bersenjata. This, like AFV, is a good indicator of raw power. Ini, seperti AFV, adalah indikator yang baik kekuasaan mentah. The quality of the aircraft, their pilots, ground crew and leadership, air force are the most important factors in the air power’s overall value. Kualitas pesawat terbang, pilot mereka, awak darat dan kepemimpinan, angkatan udara merupakan faktor yang paling penting dalam kekuatan udara nilai keseluruhan.

The Total Quality is calculated by assigning 0 (lowest) to 9 (highest) values for the following components of combat capability. Total Quality dihitung dengan menetapkan 0 (terendah) sampai 9 (tertinggi) nilai untuk komponen-komponen berikut kemampuan tempur.

Ldrs is leadership. Ldrs adalah kepemimpinan. The quality of officers and NCOs. Kualitas perwira dan bintara.

Eqp is equipment. Eqp adalah peralatan. The quantity and quality of military equipment. Kuantitas dan kualitas peralatan militer.

Exp is experience. Exp adalah pengalaman. Not just combat experience, but the quality of training. Bukan hanya pengalaman tempur, tapi kualitas pelatihan.

Spt is support. Spt adalah dukungan. This is logistics, the ability to get military supplies to the troops. Ini adalah logistik, kemampuan untuk mendapatkan perlengkapan militer kepada pasukan.

Mob is mobilization. Mob adalah mobilisasi. The ability to mobilize the national resources for combat. Kemampuan untuk memobilisasi sumber daya nasional untuk pertempuran.

Trad is tradition. Trad adalah tradisi. Military tradition, good military habits, based on practical experience. Militer tradisi, kebiasaan militer yang baik, berdasarkan pengalaman praktis.







mau cari duit dengna on line,pasive in come yo gabung di klik disini atau gambar di atas

Simulasi Perang Indonesia/Malaysia Dengan Malaysia/Singapura, Kekuatan Militer Di Kep. Spratley,dan Scenario PlanningSimulasi Perang Indonesia/ Malay








Harapan kita tentunya perang ini tak akan pernah terjadi, namun, let’s hope for the best, prepare for the worst. Di bawah ini beberapa scene dari simulasi yang saya buat di Jane’s Fleet Command yang sudah saya rombak sehingga bisa mensimulasikan Indonesia & negara-negara di sekitarnya, termasuk Singapura, Malaysia. Dalam gambar-gambar di bawah ini, saya membuat simulasi dimana Indonesia & Malaysia berada di satu pihak (kawan), dan Singapura diposisikan sebagai lawan.

Hasil akhir, tidak disangka kita cukup bisa berbicara. Kapal selam diesel elektrik kita berperan besar melumpuhkan armada lawan. Sebagai bayarannya, banyak kapal permukaan kita yang tumbang dihajar Harpoon yg diluncurkan dari kapal permukaan Singapura maupun dari F-16C/D nya yang berkemampuan anti kapal permukaan. Pesawat-pesawat udara kita juga banyak yg harus jadi korban.

Hasil akhir, tidak disangka kita cukup bisa berbicara. Kapal selam diesel elektrik kita berperan besar melumpuhkan armada lawan. Sebagai bayarannya, banyak kapal permukaan kita yang tumbang dihajar Harpoon yg diluncurkan dari kapal permukaan Singapura maupun dari F-16C/D nya yang berkemampuan anti kapal permukaan. Pesawat-pesawat udara kita juga banyak yg harus jadi korban

"PERANG AMBALAT" KITA BISA KALAH!!



Perang Ambalat? Kita Bisa Kalah!

Andi Widjajanto; Pengajar Perang dan Damai FISIP-UI, Jakarta
PENGERAHAN Angkatan Tentera Malaysia di Blok Ambalat, Laut Sulawesi, tidak dapat dilepaskan dari program pembangunan pertahanan Malaysia yang
telah berlangsung sejak awal 1990. Persiapan strategis Malaysia untuk
menggelar pasukannya merupakan wujud keberhasilan program Sixth Malaysia
Plan (1990-1995) saat Malaysia mengalokasikan US$2,4 miliar untuk
pemenuhan kebutuhan pertahanan. Pengeluaran belanja militer di periode ini meliputi pembelian 8 F/A-18 Hornet serta 18 MiG-29 Fulcrum. Di
periode ini, Malaysia juga membelanjakan US$159 juta untuk pembelian
radar pertahanan udara serta pembangunan fasilitas-fasilitas Angkatan Laut.

Program tersebut dilanjutkan dalam Seventh Malaysia Plan (1996-2000).
Program lanjutan ini diarahkan untuk mengubah titik berat strategi
pertahanan Malaysia dari counter-guerellia dan counter-insurgency ke arah pembentukan Tentera Malaysia modern. Hal ini ditandai dengan
transformasi AD Malaysia menjadi Rapid Deployment Force (RDF) yang dilengkapi dengan
peralatan tempur darat, seperti 300 tank tempur utama (T-72, T90, dan
T-80 (Rusia); Mk3M (Inggris) Leopard IA5 (Jerman), dan K1A1 (Korea
Selatan). Untuk mendukung pembentukan RDF, Tentera Udara Diraja Malaysia
diperkuat dengan pembelian sistem pertahanan rudal,

30 helikopter tempur, 16-18 pesawat tempur baru seperti F/A-18E/F
Super
Hornet, atau Su-30MKM dan MiG-29MRCA. Tentera Laut Diraja Malaysia juga
sedang berbenah dengan rencana pembelian senilai US$2,2 miliar untuk 27
kapal perang beragam jenis untuk melengkapi 56 kapal perang yang saat ini
telah dimiliki Malaysia. Malaysia juga sedang membangun 15 pangkalan laut
baru. Pangkalan terbesar yang akan dibangun berada di Teluk Sepanggar (25
km dari Kota Kinibalu, Sabah) yang akan berfungsi sebagai Markas Komando
Armada Timur Tentera Laut Diraja Malaysia.

Pembangunan pertahanan Malaysia tersebut akhirnya memungkinkan Malaysia
untuk menjalankan skenario war-game fiktif sebagai berikut: pada 3
September 2005, Malaysia menyerang Indonesia dengan satu tujuan utama
menguasai dan mengendalikan seluruh pulau yang ada di Blok Ambalat.
Serangan ini dilakukan dengan cara merebut dan menduduki pangkalan aju,
dan melakukan serangan udara terbatas atas kompartemen-kompartemen TNI
strategis di Kalimantan Timur. Untuk melakukan serangan ini, Tentera Laut
Diraja Malaysia akan melakukan operasi laut gabungan yang akan dilakukan
oleh Armada Laut II yang berpusat di Teluk Sepanggar.

Operasi laut gabungan ini akan disusul dengan operasi pendaratan pantai
serta operasi amfibi dengan kekuatan 2 brigade pendarat yang terdiri dari 7.200 personel. Kekuatan 2 brigade ini akan berasal dari Komando Wilayah
Timur Tentera Darat Diraja Malaysia yang memiliki total kekuatan 1 divisi
Tentera Darat. Komando Wilayah Timur ini bertugas untuk mempertahankan Sabah, Serawak, dan Wilayah Federal Labuan. Operasi amfibi ini
didukung oleh operasi lintas udara dengan kekuatan 1 brigade Linud yang terdiri dari 2.400 personel. Operasi lintas udara ini akan mendapat dukungan
> udara dari Skuadron 5, 7, dan 8 yang berkedudukan di Labuan,
Sabah, serta Kuching, Sarawak. Skuadron 5,7, dan 8 mengandalkan 3 skuadron pesawat Hawk yang dapat saja didukung oleh kekuatan 2 skuadron
MiG-29 dan 2 skuadron F/A-18 dari Skuadron 6 (Kuantan) dan Skuadron 9 (Kuantan).

Untuk menangkal serangan ini, TNI melakukan pre-emptive strike dengan mengerahkan tiga kekuatan pemukul dalam suatu operasi militer
gabungan.
Operasi ini bertujuan untuk menghancurkan kuatan militer Malaysia di basisnya. Kekuatan pertama adalah kekuatan udara dari Koopsau I yang
terdiri dari 1 Skuadron Pekan Baru, 1 Skuadron Halim, dan Paskhasau.
Kekuatan kedua adalah kekuatan laut Armada Timur (Surabaya) yang dapat
mengerahkan 2 kapal selam (SSK 2 Cakra), dan 10 frigates (7 FFG 10 dan 3 FF 7), dan 12.000 pasukan marinir. Kekuatan ketiga adalah satuan pasukan
khusus Angkatan Darat yang terdiri dari 2 grup Kopassus dan 1 divisi tempur Kostrad.

Jika pre-emptive strike di daerah penyangga (Zona I) ini gagal, maka TNI akan menggelar operasi laut gabungan dengan tiga tujuan yaitu (1)
menghancurkan kekuatan militer musuh dalam perjalanan, termasuk yang ada di pangkalan aju; mengendalikan laut teritorial di Blok Ambalat dan 3)
mencegah kekuatan militer musuh masuk ke wilayah darat Indonesia.
Operasi laut gabungan di Zona II (daerah pertahanan utama) ini juga harus dapat
menangkal serangan-serangan rudal Malaysia ke lokasi-lokasi strategis di Indonesia. Operasi di Zona II ini akan mengandalkan 40% dari 111 KRI
yang layak layar dari berbagai jenis.

Kegagalan operasi laut gabungan di Zona II akan memaksa Indonesia untuk
melakukan operasi matra darat di Zona III (daerah perlawanan) yang terutama terdiri dari operasi pertahanan pantai, operasi darat gabungan, operasi pertahanan wilayah, serta operasi pertahanan antiserbuan linud.
Tujuan dari operasi Zona III ini adalah untuk menghancurkan dan melemparkan kekuatan militer musuh ke luar wilayah RI. Untuk dapat melakukan operasi matra darat di Zona III, Indonesia harus memiliki kekuatan perlawanan darat yang signifikan di pulau-pulau yang ada di Blok Ambalat.

War Game di atas, walaupun bersifat fiktif, menunjukkan adanya beberapa kelemahan dari strategi pertahanan Indonesia. Tulisan ini tidak
bermaksud untuk menjabarkan seluruh kelemahan tersebut, namun hanya akan membeberkan beberapa kelemahan yang terkait dengan gelar postur pertahanan Indonesia.

Kelemahan pertama adalah pola pembagian Zona Pertahanan I (Penyangga), II
(Pertahanan Utama) dan III (Perlawanan) yang dikenal selama ini tidak dapat diaplikasikan terutama karena TNI tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menggelar operasi militer di Zona I (di luar ZEE hingga wilayah musuh) dan Zona II (di perairan teritorial Indonesia). War Game di atas jelas menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan kemampuan militer modern seperti long and middle range strike bombers, aircraft carriers, large-scale and long-range amphibious assault, dan medium range attack submarines yang dibutuhkan untuk menggelar operasi militer gabungan di Zona I.

Kemampuan yang menjadi kunci modernisasi pertahanan negara-negara di Asia Timur untuk dekade 2000-2010 tersebut saat ini tidak dimiliki dan belum dirancang dimiliki oleh Koopsau I-II maupun Armada Barat dan Timur.

Kelemahan kedua adalah gelar postur pertahanan Indonesia saat ini tidak disertai dengan pembagian kompartemen wilayah pertahanan yang emadukan
kekuatan integratif AD, AL, AU. Kompartemen-kompartemen wilayah pertahanan ini dapat ibentuk dengan satu pertimbangan utama yaitu
menangkal kemungkinan serangan dari luar. Dengan demikian, untuk menangkal negara-negara di kawasan Asia Timur-Tenggara, Indonesia membutuhkan minimal 4 kompartemen wilayah pertahanan. Kompartemen tersebut secara geostrategis terbentuk karena Indonesia memiliki 3
alur laut kepulauan Indonesia (ALKI) yang embelah Indonesia menjadi 4 kompartemen, yaitu partemen I Sumatra yang terbentuk oleh ALKI Laut China Selatan-Selat Malaka-Selat Sunda, Kompartemen II
Kalimantan yang terbentuk oleh ALKI Laut Sulawesi-Selat Lombok,Kompartemen III Sulawesi-Nusa Tenggara yang terbentuk oleh ALKI Laut
Arafuru-Celah Timor, dan Kompartemen IV Maluku-Papua yang berada di sebelah timur ALKI Laut Arafuru-Celah Timor.

Dua kelemahan tersebut mengarahkan kita untuk mengambil kesimpulan bahwa perlu dilakukan modifikasi gelar postur pertahanan Indonesia terutama karena sistem ini tidak sesuai dengan strategi pertahanan negara yang telah embangkan. Modifikasi ini perlu segera dilakukan berdasarkan
kaji ulang strategi pertahanan negara yang saat ini sedang dilakukan oleh Departemen Pertahanan. Kasus Blok Ambalat menunjukkan bahwa tuntutan
UU 34/2004 tentang gelar TNI perlu segera ujudkan. Tuntutan tersebut adalah lakukan modifikasi gelar pertahanan sehingga kekuatan TNI terfokus
digelar di daerah konflik, perbatasan, wilayah terpencil, serta pulau-pulau paling luar.***

Dubes Rusdihardjo Beberkan Kekuatan Militer Malaysia


Jakarta, 23 Maret 2005 17:06
Rapat dengar pendapat Komisi I DPR dengan Rusdihardjo dinyatakan tertutup dari wartawan karena Dubes RI untuk Malaysia itu akan membeberkan manuver dan pengerahan kekuatan militer Malaysia, terkait dengan kasus sengketa blok Ambalat antara RI dan Malaysia.

"Kami akan menjelaskan kekuatan-kekuatan di Malaysia dan deployment militer di sana. Tapi kami minta pertemuan ini tertutup," kata Rusdihardjo dalam raker yang dipimpin Ketua Komisi I DPR Theo L. Sambuaga itu di DPR, Rabu.

Theo lalu meminta para wartawan dan kamerawan yang mengikuti sidang sejak pukul 10.00 WIB itu keluar dari ruangan rapat Komisi I DPR pada pukul 14.00 WIB.

Rapat kerja itu sebelumnya membahas berbagai isu aktual seperti soal permintaan maaf Dubes Rusdihardjo kepada Pemerintah Malaysia sehubungan dengan pembakaran bendera Malaysia yang dilakukan oleh demonstran di Indonesia.

Permintaan maaf itu dikecam oleh sejumlah anggota Komisi I DPR seperti Slamet Efendy Yusuf dari FPG. Menurut Yusuf, Dubes tak perlu meminta maaf karena protes dengan membakar bendera itu merupakan hal yang wajar dalam suatu situasi konflik saat ini.

Rusdihardjo menanggapi pernyataan anggota Komisi I itu dengan mengatakan bahwa pernyataan maaf itu berguna untuk melindungi warga Indonesia yang masih ada di Malaysia. "Dengan cara itu kami melindungi warga RI dari kemarahan warga Malaysia," katanya.

Isu TKI di Malaysia juga menjadi pembiacaraan menonjol yang mendominasi raker tersebut. Dubes Rusdihardjo mengatakan bahwa di Malaysia memang ada sindikasi yang merugikan para TKI di Malaysia. Diakatakan bahwa para TKI sering harus bekerja selama lima bulan tanpa digaji. "Itu karena mereka harus membayar sindikat. TKI baru dibayar setelah lebih dari lima bulan bekerja," katanya.

Bagi TKI yang bekerja di sektor prostitusi, kata Rusdihardjo, para cukong sindikat itu tidak membayar TKW Indonesia sampai yang bersangkutan melayani 200 pria. "setelah melayani 200 laki-laki, mereka baru dibayar," kata Dubes.

Rusdihardjo mengatakan bahwa sindikat TKW Indonesia di Malaysia bukan hanya melukai para TKW dengan kasus-kasus pemerkosaan. "Setelah diperkosa, mereka dipelihara saat hamil. Setelah itu anak yang dilahirkan diperjualbelikan," katanya. [TMA, Ant]

Perimbangan Kekuatan Indonesia-Malaysia



Perang mungkin tidak, tapi saling klaim kepemilikan sepenggal wilayah di Laut Sulawesi telah memanaskan hubungan Indonesia dan Malaysia. Pesawat tempur dan kapal perang kedua negara bertukar kata di ladang eksplorasi minyak itu. Inilah gambaran sebagian kekuatan militer kedua negara:


MALAYSIA

Militer Negeri Jiran itu bernama Tentara Diraja Malaysia. Pada awal pembentukannya, peralatan militer buatan Inggris banyak dipakai negara ini. Kini mereka menggunakan peralatan dari sejumlah negara, termasuk pesawat buatan Indonesia.


Kapal Perang

- Satu kapal penyelam dilengkapi meriam 20 mm
- Dua kapal cepat pengangkut pasukan
- Empat kapal patroli buatan Prancis ber-rudal Exocet MM38 dan meriam Bofors
- 24 kapal perang yang berpangkalan di empat tempat: Lumut, Sandakan Sabah, Kuantan, dan Labuan. KD Kerambit yang berada di sekitar Ambalat merupakan salah satu kapan yang berpangkalan di Sandakan, Sabah.
- Dua kapal patroli buatan Korea Selatan yang dilengkapi meriam 100 mm Creusot Loire, 30 mm Emerlac, dan senjata penangkis antikapal selam. Kapal ini berpangkalan di Kuantan/
- Empat kapal buatan Swedia dilengkapi rudal MM38 Exocet, 57 mm Bofors, dan 40 mm Bofors berpangkalan.
- Empat kapal Frigate, dua di antaranya dibeli bekas dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris.
- Enam kapal Corvette buatan Jerman
- Empat kapal patroli penangkis ranjau buatan Italia
- Dua kapal Multi Purpose Command and Support Ship buatan Jerman dan Korea Selatan
- Satu kapal Sealift
- Dua kapal Hydro


Pesawat Tempur
- F-5 E
- Hawk MK108 berpangkalan di Alor Setar, Kuantan, dan Labuan
- Hawk MK-208 berpangkalan di Alor Setar, Kuantan, dan Labuan
- Delapan F/A-18D berpangkalan di Alor Setar
- Mig-29 berpangkalan di Kuantan
- SU-30 berpangkalan di Kuantan
- F-28 berpangkalan di Kuala Lumpur
- Falcon berpangkalan di Kuala Lumpur
- Beech 200T berpangkalan di Kuala Lumpur
- C-130H berpangkalan di Kuala Lumpur
- CN-235 berpangkalan di Kuala Lumpur
- S61A-4 berpangkalan di Kuala Lumpur, Kuching, dan Labuan
- AS61N-1 berpangkalan di Kuala Lumpur
- S70A-34 berpangkalan di Kuala Lumpur

Personel
- Jumlah prajurit semua angkatan: 196.042 (2002)
- Anggaran militer per tahun: US1,69 triliun (2,03 persen GDP)



INDONESIA

Embargo pembelian peralatan militer dari Amerika membuat rontok sejumlah peralatan militer Indonesia. Pesawat tempur terbaru, Sukhoi SU-27 SK dan SU-30 MK buatan Rusia, pun masih ompong tak punya senjata. Adapun dari 12 pesawat tempur "andalan", F-16, dua di antaranya sudah jatuh dan hanya delapan siap terbang.

Pesawat dan Heli
- Delapan Hawk MK 109 berpangkalan di Pekanbaru, Pontianak
- 32 Hawk MK 209 berpangkalan di Pekanbaru, Pontianak
- Enam CN235 berpangkalan di Halim
- Delapan F27-400M berpangkalan di Halim
- SF260MS/WS berpangkalan di Halim
- B707-3MIC
- Tujuh pesawat F27-400M
- F28-1000/3000
- L100-30
- C-130H-30 berpangkalan di Halim
- NAS332L1
- L100-30
- EC-120B
- 12 unit Heli Bell 47G-3B-1 berpangkalan di Kalijati
- Lima F-16A berpangkalan di Madiun
- Lima F-16B berpangkalan di Madiun
- F-5E berpangkalan di Madiun
- F-5F berpangkalan di Madiun
- Hawk Mk53 berpangkalan di Madiun
- dua Su-27SK berpangkalan di Makassar
- dua Su-30MK berpangkalan di Makassar
- NC212M-100/200 berpangkalan di Malang
- Ce 401A berpangkalan di Malang
- Ce 402A berpangkalan di Malang
- 10 Pesawat Bronco OV-10F di Malang

Kapal Perang
- 114 armada berbagai jenis (sepertiganya untuk operasi rutin, sepertiga untuk latihan, dan sisanya untuk pemeliharaan)

Personel
Jumlah prajurit (semua angkatan): 250 ribu orang
Anggaran militer per tahun: US$ 1 triliun (1,3 persen GDP)

ANALISIS PERANG FRONTAL INDONESIA - MALAYSIA


Analisa perang ini, dengan asumsi bahwa kedua negara tidak melibatkan negara lain dalam perang ini :


KEKUATAN ARMADA MASING - MASING NEGARA:
INDONESIA

Kekuatan Indonesia ada pada:

  • Senjata anti-udara: Indonesia telah membeli peralatan anti udara paling mutakhir dari Rusia
  • Skill dan pengalaman prajurit: Ketangguhan prajurit TNI memang tidak usah diragukan lagi, ketangguhan prajurit TNI bisa disejajarkan dengan prajurit AS atau Rusia
  • Jumlah anggota armada perang: Jumlah prajurit Indonesia yang siap tempur adalah sekitar 10x lipat prajurit Malaysia, belum lagi jika ada milisi dari pihak sipil, conscription/wajib militer, serta pembelot dari pihak Malaysia
  • Kelihaian dalam menggunakan taktik: Indonesia adalah rajanya pertempuran gerilya serta maritim, sedangkan Malaysia relatif lebih tidak berpengalaman dalam pertempuran gerilya.
  • Kelemahan Indonesia:

  • Teknologi senjata: Secara keseluruhan relatif lebih rendah dari Malaysia, Malaysia kebanyakan menggunakan senjata berteknologi canggih, sedangkan Indonesia menggunakan armada dari tahun 70 dan 80'an
  • Logistik perang: Amunisi diprediksikan akan sulit didapat karena embargo persenjataan oleh AS, belum lagi pemboikotan penggunaan armada perang buatan negara-negara sekutu Malaysia, meskipun Indonesia sebenarnya bisa memproduksi sendiri
  • MALAYSIA
    Kekuatan Malaysia ada pada:

  • Armada udara: Armada udara Malaysia terdiri dari pesawat - pesawat canggih buatan AS dan Rusia, dimana pesawat-pesawat tersebut dilengkapi air to air sidewinder missile serta air to ground missile, memungkinkan dukungan terhadap armada darat atau laut Malaysia secara menyeluruh.
  • Teknologi senjata: Senjata Malaysia memiliki teknologi terbaru, dibanding Indonesia yang bahkan masih menggunakan AK-47 sebagai senapan serbu.
  • Dukungan penuh atas logistik perang: Malaysia tidak diembargo oleh negara manapun, dan Malaysia cukup kaya untuk membiayai perang.
  • Kelemahan Malaysia:

  • Ketangguhan prajurit yang kurang: Prajurit Malaysia relatif "manja", mereka membawa makanan serta minuman kaleng sebagai logistik perang, yang membuat pergerakan mereka menjadi lamban dan stamina mereka cepat menurun. Disamping itu, prajurit Malaysia juga kurang terlatih dalam pertempuran gerilya.
  • Mobilitas armada yang buruk: Armada Malaysia bisa diblokir dengan mudah oleh lawan, lihat analisis di bawah
  • Jumlah angkatan perang yang jauh lebih kecil dari Indonesia: Telah dijelaskan di atas.
  • SKEMA PERTEMPURAN
    Untuk kasus di Sipadan, Ligitan, dan Ambalat, militer Indonesia diuntungkan dengan posisi ketiga lokasi itu yang tidak jauh dari wilayah NKRI. Beberapa pangkalan TNI di Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan, dapat dijadikan pangkalan laju bagi TNI. Sehingga praktis jalur dukungan militer bagi TNI bukan menjadi kendala saat "beroperasi" di tiga lokasi itu.

    Bagaimana dengan kekuatan militer Malaysia?

    Secara geografis, Malaysia terbagi menjadi 2 wilayah besar, yaitu wilayah Semenanjung dan wilayah di Kalimantan Utara. Malaysia bisa jadi menggunakan kekuatan militerya di daerah Kalimantan Utara sebagai barisan pertama dalam menghadapi TNI di Sipadan, Ligitan, dan Ambalat.

    Dimungkinkan pasukan laut akan beroperasi di tiga lokasi itu. Bahkan, dimungkinkan juga pasukan darat Malaysia akan melakukan infiltrasi ke wilayah darat NKRI. Tujuannya untuk melebrakan front pertempuran atau mungkin untuk memutus jalur dukungan militer TNI. Perbatasan darat antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan memang memungkinkan untuk terjadinya penyusupan.

    Saat militer Malaysia melakukan infiltrasi ke wilayah darat NKRI, kekuatan organik TNI yang berada di Kalimantan akan menghadapinya. Sejumlah pasukan TNI yang didatangkan dari wilayah terdekat, yaitu Sulawesi dan Jawa, akan membantu pertahanan di wilayah Kalimantan. Pertempuran di hutan sangat bisa terjadi. Di sini pengalaman TNI jauh lebih teruji daripada ATM, setidaknya dari berbagai pengalaman tempur di operasi-operasi militer sebelumnya (mulai tahun 1948 hingga era 1990an).

    Secara geografis, 2 wilayah besar Malaysia dipisahkan oleh wilayah NKRI, yaitu Kepulauan Natuna. TNI dapat melakukan intersep terhadap armada ATM dari wilayah Semenanjung yang akan dikirim ke wilayah di Kalimantan Utara. Dengan dukungan dari pangkalan TNI di sekitar Natuna, seperti di Pontianak, Bangka Belitung, dan Pekanbaru, maka poros halang TNI terhadap ATM di wilayah selatan Laut Cina Selatan akan semakin kuat.

    Bilamana kekuatan ATM dapat dipecah dan terkonsentrasi di 2 wilayah besar Malaysia, maka TNI akan semakin mudah menguasai pertempuran. Dengan terhambatnya jalur dukungan militer ATM di wilayah Kalimantan Utara, maka kekuatan ATM di wilayah itu akan semakin terpojok.

    Dengan kata lain, TNI berhasil melokalisir front pertempuran dan menutup jalur militer ATM. Dalam hal ini TNI telah menang satu langkah.

    Saat menyadari kekuatan ATM di Kalimantan Utara berhasil dilokalisir dan dipatahkan oleh TNI, dimungkinkan pihak Malaysia akan membuka front pertempuran di lokasi lain. Di antaranya ialah menembus blokade laut di wilayah Natuna atau justru malah mencoba masuk ke wilayah NKRI lain seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau yang memang berbatasan langsung dengan Malaysia.

    Di sini TNI juga telah menyiagakan kekuatan di pangkalan-pangkalan yang ada di wilayah itu. Bahkan dukungan dari wilayah lain seperti dari wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, dan bahkan Nusa Tenggara, diposisikan siap untuk mempertahankan wilayah NKRI dan mengusir semua musuh dari setiap wilayah NKRI.

    Yang pasti, saat TNI mampu membuat dan mempertahankan blokade terhadap kekuatan militer Malaysia, maka saat itu pula kekuatan militer Malaysia dapat diperkirakan kekalahannya.

    Perang ini sangat berpotensi membuat Perang Dunia III berkobar, serta mungkin kehancuran dari dunia, karena kemungkinan dari penggunaan senjata pemusnah massal nuklir dan hidrogen bila pecah perang antara negara - negara adikuasa yang menjadi sekutu Indonesia dan Malaysia sangat besar. Seandainya Indonesia dan Malaysia berperang tanpa melibatkan sekutu - sekutunya, Indonesia dapat memenangkan pertempuran hanya dalam waktu sekitar 3 hari saja, jika skenario di atas benar - benar terjadi.

    ASELI TULISAN DEDEN "C.A", DARI BERBAGAI SUMBER


    kekuatan militer indonesia vs malaysia skrng

    PERSONNEL INDONESIA
    Total Population: 237,512,352 [2008]
    Population Available: 125,530,542 [2008]
    Fit for Military Service: 104,496,911 [2008]
    Reaching Military Age Annually: 4,291,700 [2008]
    Active Military Personnel: 316,000 [2008]
    Active Military Reserve: 400,000 [2008]
    Active Paramilitary Units: 207,000 [2008]

    ARMY
    Total Land-Based Weapons: 2,122
    Tanks: 425 [2004]
    Armored Personnel Carriers: 684 [2004]
    Towed Artillery: 293 [2004]
    Self-Propelled Guns: 70 [2004]
    Anti-Aircraft Weapons: 515 [2004]

    NAVY
    Total Navy Ships: 111
    Merchant Marine Strength: 971 [2008]
    Major Ports and Harbors: 10
    Aircraft Carriers: 0 [2008]
    Destroyers: 0 [2008]
    Submarines: 2 [2004]
    Frigates: 15 [2004]
    Patrol & Coastal Craft: 24 [2004]
    Mine Warfare Craft: 12 [2004]
    Amphibious Craft: 26 [2004]

    AIR FORCE
    Total Aircraft: 313 [2004]
    Helicopters: 194 [2004]
    Serviceable Airports: 652 [2007]

    FINANCES (USD)
    Defense Budget: $4,740,000,000 [2008]
    Foreign Exch. & Gold: $56,920,000,000 [2007]
    Purchasing Power: $843,700,000 [2008]

    OIL
    Oil Production: 837,500 bbl/day [2007]
    Oil Consumption: 1,100,000 bbl/day [2006]
    Proven Oil Reserves: 4,430,000,000 bbl [2007]

    LOGISTICAL
    Labor Force: 109,900,000 [2007]
    Roadways: 391,009 km
    Railways: 6,458 km

    GEOGRAPHIC
    Waterways: 21,579 km
    Coastline: 54,716 km
    Square Land Area: 1,919,440 km

    Sources: US Library of Congress; Central Intelligence Agency

    Last Updated: 2/12/2009

    sumber;: http://www.globalfirepower.com/

    Mempelajari Peningkatan Kekuatan Militer Malaysia di Kepulauan Spratley

    Oleh: Kapten Inf Hasan Abdullah, Perwira Kodam Iskandar Muda

    Fakta-Fakta

    Berdasarkan deklarasi Zona Ekonomi Eksklusif tanggal 20 September 1979, Pemerintah Malaysia mengklaim batas pelantar benua sepanjang 200 mil laut. Terumbu Layang-layang adalah bagian dari kawasan yang disebut sebagai Gugusan Semarang Peninjau (GSP). GSP ini terdiri dari beberapa terumbu karang di Kepulauan Spratley bagian selatan yang berada dalam kawasan ZEE Malaysia.

    Terumbu Layang-layang sendiri adalah sebuah atol di bawah permukaan laut yang terpencil di Laut Cina Selatan, 306 km di sebelah barat laut Kota Kinabalu, ibukota Sabah. Letaknya tepat pada 7°22'23.48"N dan 113°50'46.23"E. Belum dapat dipastikan terumbu karang ini terbentuk oleh karang yang tumbuh di atas gunung api bawah laut atau sebuah gunung yang tenggelam. Para ahli kelautan mengatakan bahwa di Terumbu Layang-layang terdapat 30 rangkaian karang yang membentuk atol sepanjang 7,3 km dan lebar 2,2 km. Pulau buatan yang ada merupakan satu-satunya tempat berlabuh yang aman di kawasan ini. Perairan di sekitar terumbu karang di wilayah ini masih asli, sehat dan terlihat dengan baik. Lereng curam di atas perairan yang dalam sangat indah untuk diselami. Biota laut berupa macam-macam ikan dan penyu, ganggang serta karang banyak terdapat di wilayah ini. Beting pasir yang tampak di permukaan air laut menjadi tempat favorit untuk beristirahat bagi berbagai spesies burung laut, terutama burung layang-layang. Oleh sebab itu, terumbu karang di wilayah ini disebut sebagai Terumbu Layang-layang. Selain mengandung kekayaan alam gas alam dan minyak bumi, GSP juga kaya dengan biota laut dan keindahan alam bawah laut. Pendapatan nelayan dari hasil tangkapan ikan tuna saja dapat mencapai RM 70 juta setahun. Ini di luar hasil tangkapan lain seperti udang karang dan ikan kerapu.

    Ditinjau dari aspek geostrategis, Terumbu Layang-layang terletak di ujung selatan Kepulauan Spratley yang disengketakan oleh negara Malaysia, Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan dan China. Di lokasi tersebut, Pemerintah Malaysia telah membuat sebuah pulau seluas 6 hektar di sebelah ujung timur atol tersebut sebagai pangkalan militer dan pariwisata yang disebut dengan Stesen Lima. Pendudukan Malaysia di terumbu ini dimulai sejak tahun 1979 melalui Operasi Tugu oleh Paskal, pasukan khusus marinir Malaysia, LST KD Raja Jarom dan satu detasemen helikopter Nuri. Pembangunan kawasan GSP oleh Pemerintah Malaysia sesungguhnya mendapat kecaman dari negara Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan dan Cina. Namun sejauh ini pembangunan fasilitas pertahanan dan pariwisata oleh Pemerintah Malaysia dapat berjalan lancar.

    Sebagai pangkalan militer, GSP mempunyai beberapa pos pengamanan yang dibangun sejak tahun 1979. Penempatan pasukan pertama kali di Terumbu Layang-layang pada bulan Mei 1983 oleh anggota Paskal (Pasukan Khas Laut). Pada tahun 1985, fasilitas militer diperbesar dengan pembangunan barak. Stesen Lima (Terumbu Layang-layang) berfungsi sebagai pos induk untuk aktivitas di sekitar GSP. Pangkalan darat GSP diawaki oleh Pasukan Khas Laut (Paskal) TLDM dan Pasukan Pertahanan Udara (PPU) TLDM dipimpin oleh seorang perwira berpangkat komander (letnan kolonel). Fasilitas militer di kawasan GSP antara lain :

    a. Satu unit pangkalan utama dan empat pos pengamanan (Uniform, Papa, Tango dan Mike).

    b. Landasan udara sepanjang 1.367 meter yang dapat didarati dengan baik oleh pesawat CN235M. Meski demikian, pesawat Hercules C-130 dapat juga dipaksa mendarat walaupun dengan kondisi pendaratan yang kurang nyaman.

    c. Pelabuhan yang ada di Stesen Lima (Terumbu Layang-layang) saat ini sepanjang 42 meter dan secara bertahap akan diperpanjang lagi untuk memungkinkan lebih banyak kapal-kapal perang dan kapal wisata yang dapat berlabuh.

    d. Enam pucuk meriam Bofors kaliber 40 mm.

    e. Sistem rudal Starburst.

    Untuk meyakinkan kehadiran Pemerintah Malaysia di GSP, telah dibangun obyek wisata yang mengkhususkan pada wisata alam, penyelaman dan wisata pemancingan ikan laut dalam. Saat ini GSP, khususnya Terumbu Layang-layang telah menjadi obyek wisata terkenal di seluruh dunia yang dilengkapi fasilitas lapangan udara untuk pesawat ringan, pelabuhan kapal pesiar, pembangkit listrik tenaga diesel dan angin, resort serta sistem penyaringan air Reverse Osmosis (RO).

    Wakil PM Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak dalam kunjungan ke Terumbu Layang-layang pada hari Selasa, 12 Agustus 2008, menjelaskan bahwa pengendalian dan pendudukan suatu daerah yang disengketakan merupakan faktor utama bila kasus Ambalat dibawa ke Mahkamah Internasional. Oleh karena itu, Malaysia akan mempertahankan kehadirannya di perairan Ambalat. Najib yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan mengatakan, bahwa instalasi militer yang dibangun di pos-pos strategis garis depan merupakan bagian dari langkah-langkah untuk menyokong ZEE.

    Analisa

    Pemerintah Malaysia memandang penting aspek penguasaan wilayah dalam rangka melindungi kedaulatan negara atas wilayahnya sampai ke garis perbatasan pulau terluar. Sebagaimana telah tercatat dalam sejarah, kemenangan Malaysia atas Indonesia dalam kasus Pulau Sipadan dan Ligitan tahun 2002 serta kemenangan Singapura atas Malaysia dalam kasus perebutan Pulau Batu Puteh di Mahkamah Internasional tahun 2008 membuktikan bahwa penguasaan secara fisik terhadap wilayah yang disengketakan merupakan faktor penting untuk memenangkan kasus tersebut secara hukum di Mahkamah Internasional.

    Penempatan pangkalan militer di wilayah ZEE yang disengketakan memberikan keuntungan taktis sebagai faktor penggentar bagi negara lain yang ingin mempersengketakan wilayah tersebut. Sedangkan pembangunan obyek wisata di Terumbu Layang-layang yang mengundang minat wisatawan asing di samping memberikan keuntungan secara finansial juga secara politis dapat membangun opini masyarakat internasional bahwa kawasan GSP adalah benar-benar milik Malaysia. Opini masyarakat internasional ini penting untuk memperkuat diplomasi apabila sengketa wilayah ini dibawa ke Mahkamah Internasional.

    Peningkatan kekuatan militer Malaysia di Kepulauan Spratley, yang menurut Malaysia adalah kawasan ZEE-nya, dalam sengketa dengan Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan dan China merupakan bukti bahwa setiap negara akan melakukan tindakan apapun demi melindungi kedaulatan negaranya. Menurut Atase Laut RI Kuala Lumpur, dalam hubungan antar negara, istilah kawasan ZEE hanya dikenal dalam UNCLOS 1982 yang Malaysia sendiri tidak meratifikasinya. Menurut UNCLOS 1982, kondisi geografis Malaysia sebagai negara pantai tidak memberikan hak atas kawasan ZEE. Jadi, klaim Malaysia atas kawasan ZEE hanya merupakan klaim sepihak. Walaupun secara hukum peningkatan kekuatan militer Malaysia di kawasan ZEE tidak dibenarkan, Malaysia tetap melakukannya.

    Dalam kasus Ambalat dengan Indonesia, peta wilayah perbatasan laut Malaysia yang digunakan oleh Pemerintah Malaysia adalah peta tahun 1979. Ini tahun yang sama dengan pendudukan pertama aparat keamanan Malaysia ke GSP Terumbu Layang-layang dan mungkin pendudukan ke Pulau Sipadan dan Ligitan. Hubungan ini menunjukkan bahwa perhatian dan langkah Pemerintah Malaysia terhadap perlindungan aset wilayahnya telah ada sejak tahun 1979. Ungkapan Wakil PM Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak menunjukkan keinginan Malaysia untuk memiliki blok Ambalat semakin kuat sehubungan dengan kekalahan Malaysia dari Singapura dalam pemilikan Pulau Batu Puteh. Permasalahan Blok Ambalat yang saat ini kelihatan mereda tetap menyimpan potensi konflik, baik politik, ekonomi, sosial maupun militer. peningkatan kekuatan ekonomi dan militer Malaysia di sektor selatan pantai timur Sabah harus diwaspadai dan diantisipasi.

    Kawasan titik-titik terluar perbatasan Indonesia, sebagaimana juga Blok Ambalat, merupakan suatu sistem yang di dalamnya terlibat berbagai pihak dan kepentingan. Permasalahan politik, ekonomi dan sosial mengenai kehidupan masyarakat, perdagangan lintas batas, illegal logging, penyelundupan TKI dan sumber daya alam di sekitar titik-titik terluar perbatasan harus dikelola dengan baik agar dapat memberikan keuntungan positif bagi perjuangan mempertahankan kedaulatan NKRI. Ancaman kedaulatan NKRI di sekitar titik-titik terluar perbatasan harus ditangani secara komprehensif dan memerlukan keterlibatan berbagai pihak.

    Kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri dari ribuan pulau serta sebagian besar wilayah perbatasan yang terdiri dari lautan merupakan suatu permasalahan krusial bila dihadapkan dengan konsep pertahanan yang menitikberatkan pada operasi patroli dengan menggunakan alutsista kapal perang dan pesawat tempur. Ini dapat dipahami mengingat kondisi keuangan negara yang belum mampu menyediakan alutsista sesuai kebutuhan untuk menjaga kedaulatan wilayah negara. Di sisi lain, kondisi geografis ribuan pulau yang dimiliki Indonesia dan rakyat Indonesia yang tersebar sampai di pulau-pulau terpencil tersebut merupakan aset yang sangat berharga bila dikelola dengan baik.

    Pemerintah harus mengutamakan pembangunan infrastruktur sosial dan ekonomi di kawasan terpencil pulau-pulau terluar yang bersifat dasar maupun yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing. Selain infrastruktur dasar seperti kesehatan, pendidikan, transportasi dan sebagainya, potensi wilayah yang dapat dikembangkan di pulau-pulau terluar ini biasanya adalah budidaya dan pariwisata kelautan. Dengan pembangunan infrastruktur ini diharapkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan potensi ekonomi di daerah itu akan meningkat. Peningkatan potensi ekonomi ini diharapkan akan berpengaruh pada peningkatan pendapatan daerah dan pendapatan negara.

    Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan dalam pembangunan masyarakat di pulau-pulau terluar adalah penanaman jiwa patriotisme dan nasionalisme serta kepedulian terhadap pertahanan (defense awareness). Sejarah telah membuktikan kemenangan bangsa Indonesia atas penjajah sesungguhnya merupakan kemenangan rakyat bersama politisi dan tentara. Dalam segi militer, rakyat membantu tentara dalam suplai logistik maupun informasi. Dalam penegakan kedaulatan negara di masa modern ini masyarakat penduduk pulau terluar merupakan aset intelijen yang dapat memberikan informasi adanya ancaman terhadap kedaulatan negara.

    Seiring dengan peningkatan kesejahteraan, potensi ekonomi masyarakat dan negara serta kepedulian terhadap pertahanan masyarakat di pulau terluar, peningkatan kekuatan militer di kawasan tersebut secara bertahap juga ditingkatkan. Pangkalan-pangkalan militer perlu dibangun di pulau-pulau atau terumbu karang terluar, bila perlu di kawasan ZEE. Pembangunan pangkalan militer ini akan memberikan rasa aman bagi masyarakat setempat dan juga bagi investor yang ingin berusaha di kawasan tersebut.

    Kesimpulan

    Perjuangan mempertahankan kedaulatan NKRI atas suatu wilayah dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terbukti tidak dapat dilakukan dari satu pihak saja. Diplomasi dan kekuatan militer saja, tidak akan mampu mempertahankan suatu wilayah dalam sengketa dengan negara lain. Sengketa titik terluar perbatasan adalah sengketa suatu sistem yang di dalamnya terlibat berbagai pihak dan kepentingan. Menarik pelajaran dari peningkatan kekuatan Malaysia di Kepulauan Spratley, ada tiga hal penting yang harus dilakukan dalam menjaga kedaulatan NKRI di pulau terluar yang perlu melibatkan berbagai pihak pemerintah maupun masyarakat dalam kondisi sekarang ini, yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat dan potensi ekonomi setempat, penanaman jiwa patriotisme dan nasionalisme masyarakat setempat serta diiringi dengan peningkatan peningkatan kekuatan militer secara bertahap di kawasan titik terluar wilayah negara tersebut.


    Referensi:
    1.
    http://www.mir.com.my/potpourri/places/mpwong/ destination/p_layang/index.htm.
    2. http://www.newsabahtimes.com.my/nstweb/fullstory/20634.
    3. DAILY EXPRESS, RABU, 13 AGUSTUS 2008; HAL 2.
    4. MAJALAH PERAJURIT EDISI DESEMBER 2007; HAL 56.
    5. MAJALAH PERAJURIT EDISI JANUARI 2008; HAL 44.
    6. MAJALAH PERAJURIT EDISI FEBRUARI 2008; HAL 52.

    President Soekarno's speech at the State Palace, Jakarta, May 20, 1962.


    "Yes, indeed, our principle, is indeed that a nation can only stand firmly, that a nation can achieve independence, that a nation can defend its freedom, that a nation can build a just and prosperous society, first of all only by its own power.

    Hay, Indonesian People ! We get assistance from the new emerging forces. We get assistance from several countries in our struggle to build our State, in our struggle for the liberation of West Irian, in our struggle to build a just and prosperous society, we get assistance, assistance, assistance, simpathy, simpathy, simpathy, but don't forget, that only a nation who stands on its own strength can become a great nation. Even more so, if this assistance doesn't exist, do not be discouraged. If this assistance doesn't exist, don't be down-hearted. Strengthen ourselves ! Because only a nation who strengthens itself, can become a strong nation. "Innallaaha la yughayyiru ma biqaumin hattaa yughayyiru ma bianfusihim." God will not change the fate of a nation if that nation itself does not change its own fate !"

    Pidato Presiden Soekarno di Istana Negara, Jakarta, 20 Mei 1962.


    "Ya, memang, prinsip kami, memang suatu bangsa hanya dapat berdiri dengan tegas, bahwa suatu bangsa dapat mencapai kemerdekaan, suatu bangsa dapat membela kebebasan, suatu bangsa dapat membangun masyarakat yang adil dan makmur, pertama-tama hanya oleh perusahaan kekuatan sendiri.

    Hay, Orang Indonesia! Kami mendapatkan bantuan dari kekuatan-kekuatan yang muncul baru. Kami mendapatkan bantuan dari beberapa negara dalam perjuangan kita untuk membangun negara kita, dalam perjuangan kita untuk pembebasan Irian Barat, dalam perjuangan kita untuk membangun masyarakat yang adil dan makmur, kita mendapatkan bantuan, bantuan, bantuan, simpathy, simpathy, simpathy, tapi jangan lupa, bahwa hanya bangsa yang berdiri pada kekuatan sendiri bisa menjadi suatu bangsa yang besar. Bahkan lebih lagi, jika bantuan ini tidak ada, jangan berkecil hati. Jika bantuan ini tidak ada, tidak akan turun-hati. Memperkuat diri kita sendiri! Karena hanya sebuah bangsa yang memperkuat itu sendiri, dapat menjadi bangsa yang kuat. "Innallaaha la yughayyiru ma biqaumin hattaa yughayyiru ma bianfusihim." Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu sendiri tidak mengubah nasib sendiri! "




    Rabu, 26 Mei 2010